Menafsirkan Tuhan dalam Perangkap Pikir Manusia

 

menulis

 

( Tulisan ini adalah sebuah coment saya di facebook dalam sebuah obrolan ringan )

 

Setiap pensifatan Tuhan yang berasal dari inspirasi akal adalah definisi akal tentang-Nya. Begitu seterusnya dan seterusnya sehingga manusia akan terbentur dalam lingkaran aktifitas akal yang berupa pemikiran tentang upaya memahami wujud tak terbatas dengan batasannya yang ada pada dirinya sendiri. Bagaimana mengenali Tuhan sementara manusia seringkali memperlakukan Tuhan sebagai pelayan untuk tujuan memenuhi kepentingannya, merumuskan wujudNya dalam gambaran empiris layaknya lukisan oleh pelukisnya, memahami esensinya dengan logika yang bersumber dari nalar yang masih terus bertanya. Ini seperti sebuah lingkaran tak berujung.

Tuhan bukanlah sebuah kosmos (ketersusunan). Kata “Ahad” bukan sebagai tunggal dalam pengertian bilangan semata. Setiap pertanyaan “dalam apa Dia berada “, berarti manusia telah memperangkapNya dalam sebuah tempat. Dia maujud tetapi tidak melalui fenomena kemunculan dari sesuatu yang tiada menjadi ada. Dia meliputi segala sesuatu, bersama dalam segala sesuatu tetapi tidak terjamah oleh inderawi dan tidak dalam konotasi keterpisahan dan kebersamaan fisikal. Dia berbuat tanpa konotasi gerakan.

Jika seorang Mulla Sadra dalam konsepnya tentang gerak substansial dan pemahamannya tentang gradasi menyatakan, setiap hamba sejatinya bergerak terus menerus menuju kembali kepadaNya, sebab seluruh penciptaanNya adalah hembusan dari RuhNya sehingga ada masa saat ia akan kembali pada penciptanya. Maka sebuah keniscayaan pula jika berbicara tentangNya adalah berbicara perihal yang Awal dan Yang Akhir dari suatu perjalanan.

Pun demikian ketika seorang Ibnu Arabi menyatakan bahwa sejatinya Penciptaan Semesta ini adalah berawal dari cinta. Setiap kali Tuhan menciptakan sesuatu yang bersifat sementara, Dia menciptakannya secara berpasangan, sebagai dua hal yang terkait ataupun berlawanan. Pasangan yang paling sering disebutkan adalah langit dan bumi.

Ketika diturunkan pada konteks kemanusiaan langit digambarkan sebagai pria, sedangkan bumi digambarkan sebagai wanita. Sifat langit adalah pemberi limpahan pada bumi, dan bumi adalah simbol penerima limpahan itu. Ibnu Arabi menyebutnya bahwa pria dan wanita memiliki lokus yang sama, yaitu manusia. Artinya, bisa pula digambarkan bahwa ketiadaan salah satu pihak adalah sebuah ketidaksempurnaan. Dalam konteks perjalanan spiritual, Ibnu Arabi menyatakan bahwa perempuan digambarkan sebagai pengejawantahan sifat Jamaliyah, sedangkan pria digambarkan sebagai sifat JalaliyahNya. Dan keduanya bersumber dari yang sama, yaitu Ketunggalan MaujudNya.

Ada sebuah ungkapan yang menarik pula dari Ibnu Arabi menurut saya mengenai pendapatnya, “Kerinduan seorang pria terhadap wanita adalah seperti layaknya kerinduan keseluruhan terhadap bagiannya”. Dan sejatinya ini adalah sebuah perjalanan ruhaniah menuju Tuhannya. Wallahu’alam

TENTANG REZEKI

mencari rezekiSegala puji bagi Allah azza wajalla, shalawat dan salam atas Rasulullah dan ahlul baitnya yang suci. Saat saya menulis tentang ini, sebenarnya saya tidak memiliki kapasitas untuk membicarakan pembahasan ini, akan tetapi saya sedang mencoba belajar memahami dengan segala kekerdilan pemikiran saya berkaitan tentang bagaimana Ahlul Bait mengajarkan bagaimana seharusnya seorang hamba memahami rejeki yang Allah limpahkan kepada manusia. Semoga Allah mengampuni saya jika terjadi kesalahan dalam memahaminya.

Salah satu tanda benarnya keyakinan seorang Muslim adalah bahwa dia tidak mau memperoleh  ridha manusia  dengan memperoleh kebencian dari Allah, dan tidak mencaci mereka atas apa yang tidak diberikan Allah kepadanya. Sebab rezeki itu tidak dapat digiring oleh ambisi orang yang berambisi (terhadapnya) dan tidak pula dapat dicegah oleh ketidaksukaan orang yang tidak suka. Kalau sekiranya  salah seorang diantara kalian lari dari rezekinya sebagaimana dia lari dari kematian, niscaya rezeki tersebut tetap akan menemukannya, sebagaimana halnya dengan kematian yang menemuinya. Sesunguhnya Allah dengan keadilan dan kebencianNya, menjadikan ketentraman dan kesenangan (terletak) dalam keyakinan dan keridhaan, dan menjadikan kegelisahan dan kesedihan (terletak) dalam keraguan dan kebencian (Imam Hussein as)

 Seseorang yang ingin mencari perkenan manusia dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dapat menguasai hati dan pikiran mereka, sesungguhnya dia melakukan semua itu karena keyakinan bahwa orang-orang tersebut memegang peranan penting dan menentukan bagi kelancaran rezekinya. Ada kalanya tanpa disadari, hati dan pikiran kita telah terselimut oleh sebuah ambisi yang halus dan mperlahan-lahan mengarahkan kita pada arah yang menjauh dari keyakinan kita akan nilai-nilai tauhid. Orang yang memiliki keyakinan yang benar akan merasa berkewajiban untuk berupaya mencari rezeki pada setiap kesempatan. Bahkan akan dilakukannya secara rasional dan syar’i. Secara sadar orang yang memiliki keyakinan penuh, tidak akan berusaha untuk menutup pintu rezeki melalui jalan apapun, seraya meyakini bahwa segala sesuatu itu bersumber dari Sang Maha Mutlak.  Pencari, mencari dan yang dicari semua berasal dari sumber yang satu yaitu Allah SWT.

Dalam telaah hadist oleh Imam Khomeini mengenai ucapan Imam Abu Abdillah as yang berbunyi “Dan hendaklah dia tidak mencaci maki mereka atas apa yang tidak diberikan Allah kepadanya”, beliau mengatakan :

Pertama,  hendaknya seseorang tidak mengumpat atau mencaci maki karena tidak diberikannya harta (materi) yang dia tidak memilikinya, tetapi orang lain memilikinya. Sebab seseorang yang memiliki keyakinan pasti menyadari bahwa harta atau  materi yang tidak dianugerahkan padanya tentu tidak akan memberikan maslahat baginya, atau tidak menjadikan kebaikan apabila diberikan melalui tangan orang lain. Tetapi Allah akan memberikan kepadanya melalui jalan yang tidak terduga-duga.

Kedua, hendaknya seseorang tidak mencela siapapun atas apa yang tidak dianugerahkan padanya. Hal ini sejalan dengan ucapan Imam Husein as berkenaan dengan penciptaan, “Kalau sekiranya seseorang itu tahu bagaimana Allah menjadikan makhluk ini, niscaya dia tidak akan mencela siapapun.”

Allah menempatkan ketenangan dan kesenangan pada keyakinan dan Ridha, dan menempatkan kegelisahan dan kesedihan pada keraguan dan kebencian berdasarkan Prinsip Keadilan.

Seseorang yang beriman kepada Allah dan ketentuanNya dengan keimanan yang betul-betul yakin, dan bersandar pada Sandaran Yang Maha Kuat dalam bentuknya yang mutlak. Maka di tengah kesulitan hidupnya, bahkan pada saat puncak kesulitan, ia akan menganggapnya ringan. Seseorang yang memiliki keyakinan penuh akan memiliki cara pandang yang berbeda dan cara hidup yang berbeda dalam mensikapi segala persoalan hidupnya. Bagi orang-orang yang menyandarkan diri pada sarana-sarana lahiriah/material dalam mencari rezeki selamanya berada dalam kegelisahan dan ketidaktenangan. Seseorang dengan karakter demikian akan menganggap sangat serius kesuliyannya, sebab mereka tidak memiliki alternative pemecahan lain berkaitan dengan kemasalahatan Ilahi yang tersembunyi dan hanya mampu ditangkap oleh orang yang memiliki keyakinan penuh. Dengan kata lain orang-orang yang menyandarkan kebahagiaannya pada keberhasilan hidup duniawi, akan berhadapan dengan penderitaan dan kelelahan batin dalam kehidupannya.

Alhamdulillah, wal awwalu wal akhiru…

 

BAGAIMANA AKU PERCAYA KATA-KATA, SEDANG ENGKAU TERIKAT DALAM RUANG WAKTU YANG LABIL

anakBagiku, hati adalah keabadian, ia adalah pencari sekaligus penemu kesejatian. Aku berjalan, terus berjalan, mungkin separuh waktu hidupku telah kulalui untuk berusaha menemukanmu. Engkau menyapaku agar aku berhenti sejenak dari terik dan dingin kusamnya keranda kematian jiwaku. Lalu aku mempercayaimu, kita berjalan….aku mencoba mempercayai bahwa dalam ruang waktu ini ada kesejatian cinta, ….aku menaruh harapan padamu. Pada kata-kata yang awal mulanya aku menyandarkan apa yang dinamakan kepercayaan….

Hari berganti, bulan berganti, tahun berganti…semua menjadi kabur. Dan kembali kata-kata itu berubah, waktu demi waktu. Ia bergelombang mengikuti irama labilnya perjalanan jiwamu.

Engkau berubah seiring dengan waktu, kau terus berlari mengejar  permata yang kau impikan, dengan menggadaikan dan mengoyak nafas kehidupanku.  Waktu telah menyeriangi, ia menunjukkan keperkasaannya…seolah meneriakkan inilah aku yang akan membolak-balikkan setiap keabadian dalam alam pikir pencarian hati manusia. Inilah aku, sang waktu , yang telah diberi otoritas untuk menunjukkan pada setiap jiwa yang mengikatkannya padaku.

Oh tidak, aku telah terjerumus oleh kata-kata yang kau ikatkan padaku. Sekali lagi, aku terpuruk oleh ketidakabadian. Jiwaku menolak keras, bagaimana aku percaya kata-kata yang begitu manis bergulir, hingga membuatku menempatkan jiwamu dalam ruang keabadian ? Hingga aku terus menyandarkan diri pada pengharapan yang semu, penantian tak berujung. ..?

Bagaimana engkau begitu telah mengikat jiwaku dengan manisnya kata-kata, sementara engkau sangat terikat dengan labilnya ruang dan waktu hidup ini.

Oh tidak tuan, engkau telah merobek jantung kepercayaanku padamu, engkau telah mengikis manisnya pengharapan bahwa di dunia ini masih ada sebongkah cinta yang akan memperjalankanku pada keabadian dan kesejatian.

Kesetiaan saja tak cukup untuk mengingatkanmu, pergilah jika engkau memang masih ingin menghendaki gemerlap dunia ini. Mungkin aku hanyalah persinggahan sejenak perjalanan petualanganmu. Tapi tidak bagiku, aku telah berdosa karena memberimu ruang keabadian dalam hatiku untukmu, dan kini aku menyadarinya…..

Sudahlah, aku tidak lagi mengijinkanmu menyeruak dan memporak porandakan perjalananku. Mungkin, kini aku lah kepingan tak berbentuk. Aku tak hendak memaksa jiwa dalam ketidakselarasan. Waktu telah memperingatkanku, akan ajal didepan yang menantang, akan fatamorgana yang menyilaukan mata. Aku menulis kata-kata, bukan untuk memintamu mempercayainya, tapi menajamkan mata batin tentang apa sesungguhnya yang ada dibalik kata-kata…

CERMIN

cermin

Cerminku retak

Sayapku patah….

Aku bersandar di ujung belantara tanpa batas

Di ujung pena aku bersimpuh

Mengurai makna yang terhempas begitu rupa oleh senyap sorak sorai keserakahan hidup

Cerminku retak

Wajahku seperti bongkahan batu berserak tak bergerak….hampa…

Cerminku retak….

Aku ikuti kata ‘Tuhan’, tapi selalu saja terbentur imajinasiku tentangNya

Aku ikuti pendekar yang membawa nama-nama Tuhan

Yang bersemayam dalam jubah gemerlap tuan-tuan eksistensi

Aku menurut apa kata punggawa

Karena ia bagian dekat Tuhan

Aku ikuti pendekar kata-kata

Aku ikuti pendekar penterjemah makna

Aku ikuti romantisme rasionalitas yang membuatku terbang dalam lompatan nalar dan logika

Aku ikuti gelombang irama tabuhan sufi yang bertalu-talu dalam tangisan harap cemas surga Tuhan

Tapi…..sayapku patah

Cerminku retak berhamburan oleh segala pinta atas nama makna universalitas, moralitas dan kesantunan

Para punggawa telah mencabik-cabik nafasku

Para punggawa telah merampas jantung kehidupanku

Para punggawa telah merampas hijabku…..atas nama Tuhan yang Maha Welas

Cerminku retak….

Sayapku patah….

Aku bersimbah darah oleh luka yang menganga

Cerminku retak…..

Satu persatu kaca berjatuhan….cerminku semakin tak berbentuk dan tak beraturan

Aku pengelana makna tapi bukan punggawa yang bersenjata dan berjubah indah….

Aku pengembara semesta

Para punggawa telah mencabik cabik badanku….

Para ‘pemandu jalan Tuhan’ telah memporak porandakan jiwaku…

Cerminku retak….

Kini sirna dalam kepingan tak berbentuk….

(Jombang, 6 April 2014, 18.00)

SAHABAT SEJATI

” Pertemuan jiwa tak akan mampu dielakkan karena cinta persahabatan telah memilihnya. Biarlah ia terus mengukir hari-hari di sepenggal perjalanan pencarian yang berharap akan sampai….Pertemuan yang meniscayakan tak ada lagi jarak diantara jiwa-jiwa pengelana akan mewujud dalam penyatuan yang tak akan pernah sirna oleh keterbatasan dimensi…

Aku mengukirnya, dan seiring dengan waktu jiwanya selalu ada bersamaku
Pada ketika kegerahan memilukan, mengurai perihnya perjalanan jiwa, kesendirian tak lagi sunyi, karena dalam kesunyian telah hidup jiwa2 yang selalu menemani. Tak ada lagi jarak memisahkan dalam persahabatan jiwa yang tulus, ia abadi bersama ketulusannya, ia hidup dalam kematiannya, dan akan terus hidup hingga dipersatukan oleh sebuah keranda abadi di penghujung puncak pengharapan….”
Jombang, 07/07/10

(Tulisan ini adalah ekspresi kecil ketika berbincang2 bersama kawan, mengenai makna sahabat di jejaring sosial facebook pada July 7, 2010 at 1:54am….kebetulan menemukannya kembali dan ingin mengenangnya di blog ini )

NASIHAT IMAM ALI AL-RIDLO as UNTUK HARI TERAKHIR BULAN SYABAN

Image

Hari ini adalah hari terakhir bulan Syaban setelah ditetapkannya bahwa 1 Ramadhan jatuh pada tanggal 21 Juli 2012 dan mungkin banyak dari kita yang masih belum menimba rahmat di bulan ini. Imam Ali al-Ridho as menunjukkan jalan bagi orang yang belum berhasil mengumpulkan bekal di bulan ini  sebelum menginjak bulan Ramadan.

Abu al-Shilat Harawi meriwayatkan bahwa di Jumat terakhir bulan Syaban, dia menghadap Imam Ali al-Ridho as dan beliau berkata: “Wahai Abu al-Shilat, sebagian besar bulan Syaban telah berlalu dan Jumat ini adalah terakhirnya, maka bersiap-siaplah untuk mengejar ketertinggalan dari apa yang masih tersisa di bulan ini, kekuranganmu di hari-hari sebelumnya di bulan ini, hendaknya kau berpaling kepada yang bermanfaat bagimu, banyaklah berdoa dan beristighfar dan membacalah al-Quran, dan bertaubatlah kau kepada Allah Swt atas dosa-dosamu, sehingga pada bulan Ramadan kau telah menyucikan dirimu di hadapan Allah, dan jangan kau menyimpan amanat atau hak orang lain kecuali kau melaksanakannya, dan jangan kau menyimpan dendam kepada orang lain di hatimu kecuali kau telah telah mengeluarkannya (dari hatimu),  dan jangan kau simpan dosa yang kau lakukan kecuali kau telah meninggalkannya, takutlah kepada Allah Swt dan bertawakallah kepada-Nya dalam urusan-urusanmu secara batin dan lahiriyah, dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya, dan di sisa bulan ini perbanyaklah berdoa;

اَللّهُمَّ اِنْ لَمْ تَکُنْ غَفَرْتَ لَنا فیما مَضى مِنْ شَعْبانَ فَاغْفِرْ لَنا فیما بَقِىَ مِنْهُ

(Ya Allah, jika Kau tidak mengampuniku di hari-hari bulan Syaban yang telah berlalu maka ampunilah aku pada apa yang tersisa dari bulan ini)  Sesungguhnya adalah hak Allah Swt di bulan ini untuk melepaskan belenggu-belenggu api negara untuk kesucian bulan Ramadan.

Syeikh Tusi meriwayatkan dari Harits bin Mughairah Nadzri bahwa Imam Ja’far as-Shadiq as di malam terakhir bulan Syaban dan malam pertama Ramadan membaca doa ini:

اَللّهُمَّ اِنَّ هذَا الشَّهْرَ الْمُبارَکَ الَّذى اُنْزِلَ فیهِ الْقُرآنُ وَ جُعِلَ هُدىً لِلنّاسِ وَ بَیِّناتٍ مِنَ الْهُدى وَالْفُرْقانِ قَدْ حَضَرَ فَسَلِّمْنا فیهِ وَ سَلِّمْهُ لَنا وَ تَسَلَّمْهُ مِنّا فى یُسْرٍ مِنْکَ وَ عافِیَهٍ یا مَنْ اَخَذَ الْقَلیلَ وَ شَکَرَ الْکَثیرَ اِقْبَلْ مِنِّى الْیَسیرَ اَللّهُمَّ اِنّى اَسْئَلُکَ اَنْ تَجْعَلَ لى اِلى کُلِّ خَیْرٍ سَبیلاً وَ مِنْ کُلِّ ما لا تُحِبُّ مانِعاً یا اَرْحَمَ الرّاحِمینَ یا مَنْ عَفا عَنّى وَ عَمّا خَلَوْتُ بِهِ مِنَ السَّیِّئاتِ یا مَنْ لَمْ یُؤاخِذْنى بِارْتِکابِ الْمَعاصى عَفْوَکَ عَفْوَکَ عَفْوَکَ یاکَریمُ اِلهى وَ عَظْتَنى فَلَمْ اَتَّعِظْ وَ زَجَرْتَنى عَنْ مَحارِمِکَ فلَمْ اَنْزَجِرْ فَما عُذْرى فَاعْفُ عَنّى یا کَریمُ عَفْوَکَ عَفْوَکَ اَللّهُمَّ اِنّى اَسْئَلُکَ الرّاحَهَ عِنْدَ الْمَوْتِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسابِ عَظُمَ الذَّنْبُ مِنْ عَبدِکَ فَلْیَحْسُنِ التَّجاوُزُ مِنْ عِنْدِکَ یااَهْلَ التَّقْوى وَ یا اَهْلَ الْمَغْفِرَهِ عَفْوَکَ عَفْوَکَ اَللّهُمَّ اِنّى عَبْدُکَ بْنُ عَبْدِکَ بْنُ اَمَتِکَ ضَعیْفٌ فَقیرٌ اِلى رَحْمَتِکَ وَ اَنْتَ مُنْزِلُ الْغِنى والْبَرَکَهِ عَلَى الْعِبادِ قاهِرٌ مُقْتَدِرٌ اَحْصَیْتَ اَعمالَهُمْ وَ قَسَمْتَ اَرْزاقَهُمْ وَ جَعَلْتَهُمْ مُخْتَلِفَهً اَلْسِنَتُهُمْ وَ اَلْوانُهُمْ خَلْقاً مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ وَ لا یَعْلَمُ الْعِبادُ عِلْمَکَ وَ لا یَقْدِرُ الْعِبادُ قَدْرَکَ وَکُلُّنا فَقیرٌ اِلى رَحْمَتِکَ فَلا تَصْرِفْ عَنّى وَجْهَکَ وَاجْعَلْنى مِنْ صالِحى خَلْقِکَ فِى الْعَمَلِ وَالاْمَلِ وَالْقَضاَّءِ وَالْقَدَرِ اَللّهُمَّ اَبْقِنى خَیْرَ الْبَقاَّءِ وَ اَفْنِنى خَیْرَ الْفَناَّءِ عَلى مُوالاهِ اَوْلِیاَّئِکَ وَ مُعاداهِ اَعْداَّئِکَ وَ الرَّغْبَهِ اِلَیْکَ وَ الرَّهْبَهِ مِنْکَ وَالْخُشُوعِ وَالْوَفاءِ وَالتَّسْلیمِ لَکَ وَالتَّصْدیقِ بِکِتابِکَ وَاتِّباعِ سُنَّهِ رَسُولِکَ اَللّهُمَّ ما کانَ فى قَلْبى مِنْ شَکٍّ اَوْ رَیْبَهٍ اَوْ جُحُودٍ اَوْ قُنُوطٍ اَوْ فَرَحٍ اَوْ بَذَخٍ اَوْ بَطَرٍ اَوْ خُیَلاَّءَ اَوْ رِیاَّءٍ اَوْ سُمْعَهٍ اَوْ شِقاقٍ اَوْ نِفاقٍ اَوْ کُفْرٍ اَوْ فُسُوقٍ اَوْ عِصْیانٍ اَوْ عَظَمَهٍ اَوْ شَىءٍ لا تُحِبُّ فَاَسْئَلُکَ یا رَبِّ اَنْ تُبَدِّلَنى مَکانَهُ ایماناً بِوَعْدِکَ وَ وَفآءً بِعَهْدِکَ وَ رِضاً بِقَضاَّئِکَ وَ زُهْداً فِى الدُّنْیا وَ رَغْبَهً فیما عِنْدَکَ وَ اَثَرَهً وَ طُمَاْنینَهً وَ تَوْبَهً نَصُوحاً اَسْئَلُکَ ذلِکَ یا رَبَّ الْعالَمینَ اِلهى اَنْتَ مِنْ حِلْمِکَ تُعْصى وَ مِنْ کَرَمِکَ جُودِکَ تُطاعُ فَکَانَّکَ لَمْ تُعْصَ وَ اَنَا وَ مَنْ لَمْ یَعْصِکَ سُکّانُ اَرْضِکَ فَکُنْ عَلَیْنا بِالْفَضْلِ جَواداً وَ بِالْخَیْرِ عَوّاداً یا اَرْحَمَ الرّاحِمینَ وَ صَلَّى اللّهُ عَلى مُحَمَّدٍ وَ الِهِ صَلوهً داَّئِمَهً لا تُحْصى وَ لا تُعَدُّ وَ لا یَقْدِرُ قَدْرَها غَیْرُکَ یا اَرْحَمَ الرّاحِمینَ

KESEDERHANAAN PEMIMPIN

Pesta biasanya identic dengan kemeriahan, hura-hura atau  kemewahan. Apalagi bagi pesta yang diselenggarakan oleh pejabat public. Namun demikian ternyata ada seorang presiden yang menikahkan anaknya dengan sangat sederhana dan bersahaja. Siapa yang tidak mengenal Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad. Selain sebagai seorang pemimpin yang sangat berani, ia juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana dan bersahaja. Kesederhanaan dan kesahajaan itu tampak saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet istana Iran yang sangat tinggi nilainya kepada masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.Selain itu tampak juga pada saat ia menikahkan putranya, Alireza Ahmadinejad tiga tahun yang lalu. Setelah ditelusuri, ternyata pernikahan tersebut hanya menelan biaya 3,5 juta Toman (setara dengan USD 3.500/ Rp 28 Juta).

Meski terbilang sederhana, pernikahan ini berlangsung dengan khidmat dan syahdu. Hal ini sangat berbeda sekali dengan upacara pernikahan anak presiden Indonesia Ibas-Aliyya yang diselenggarakan hari ini (24/11). Beberapa sumber mencatat bahwa biaya pernikahan Ibas-Aliya menghabiskan dana sebesar Rp 12 Miliar. Sementara itu, tabloid Cek dan Ricek melaporkan prosesi pernikahan ini menghabiskan dana sebesar Rp 40 Miliar.

Pernikahan Ibas-Aliya juga berdampak negatif terhadap masyarakat. Pernikahan ini telah merampas hak 300 siswa sekolah alam Cikeas dan SDN 1 Cipanas karena diliburkan, menghilangkan nafkah 1000 pedagang Pasar Cipanas dan 1000 angkutan umum Cipanas serta belasan ribu masyarakat yang akan berbelanja di Pasar Cipanas yang menggunakan angkutan umum.

Hal berbeda akan kita temukan pada pernikahan putra Ahmadinejad sebagaimana dilukiskan oleh Javad Matin tentang  prosesi pernikahan itu sebagai berikut:

“SAAT itu, pada Rabu malam ketika telepon saya berdering, Saya diundang ke upacara pernikahan sahabat baik saya, Alireza, yang akan berlangsung malam berikutnya.

Saya tahu setiap kali Idul Ghadir (Hari libur Islam di Iran) datang keluarga itu pergi ke beyt [Istana kepresidenan] dan dia akan dinikahkan dengan keponakan syahid Kaveh [tentara Iran, Garda Revolusi, dan anggota Basij yang tewas dalam perang Irak biasa disebut syahid].

Kamis malam pukul sembilan, saya pergi ke istana kepresidenan. Dari luar tempat itu, semua tampak biasa saja, sampai-sampai saya mengira bahwa saya telah datang ke tempat yang salah. Sepertinya pernikahan putra seorang presiden tidak diadakan di sana.

Saya memasuki taman dan sadar bahwa saya harus mematikan telepon. Sekelompok orang berbaris untuk salat. Kemudian saya memasuki aula. Sejumlah meja kosong karena tamu yang duduk sedang pergi untuk melaksanakan salat. Buah-buahan dan kue, sebotol air mineral, beberapa piring dan pisau telah ditata di meja untuk para tamu.

Saya menanyakan keberadaaan “doktor” [sebutan untuk Ahmadinejad dari para pendukungnya karena dia adalah doktor di bidang teknik sipil dan manajemen lalu lintas transportasi]. Saya diberi tahu bahwa dia sedang salat di halaman belakang.

Karena kurangnya ruangan, beberapa tamu pergi menuju halaman belakang. Saya salat bersama, seorang ajudan senior kepresidenan, Mojtaba Samareh Hashemi. Kemudian saya kembali ke aula.

Sang doktor sedang duduk di meja pertama di sebelah ayah pengantin wanita. Setelah bersalaman hangat dengannya dan beberapa pejabat lain, saya duduk di salah satu meja.

Kemudian sang pengantin pria memasuki aula. Dia mengucapkan salam kepada setiap tamu dan duduk di samping doktor dan ayah mempelai wanita, Haj Agha Akbari.

Ketua panitia penyelenggara pernikahan, Mr. Kheirkhah, mengatakan betapa doktor begitu perhatian terhadap resepsi pernikahan ini sampai pada hal-hal yang detailnya. Dia mengatakan bahwa doktor hanya memesan satu jenis makanan dan membayar 3,5 juta toman [sekitar 3.500 dolar / Rp 28 juta] untuk biaya resepsi.

Dia menambahkan bahwa jumlah tamu pria sebanyak 180 orang. Saya hanya melihat sedikit pejabat negara. Saya pernah ke pernikahan pejabat publik sebelumnya dan di sana tidak hanya ada pengeluaran mewah tapi juga banyak menteri dan pejabat negara yang hadir.

Tapi apa yang saya lihat disini benar-benar penuh dengan kesederhanaan. Ini adalah resepsi rakyat, padahal ayah sang pengatin pria adalah orang nomor satu di negeri ini.

Dalam pesta tersebut, aura kesederhanaan sangat terasa di mana-mana. Hal tersebut terbukti dari cara tamu dijamu. Hal ini juga bisa dilihat dari mobil yang digunakan untuk mengantar pengantin dan perjamuan itu sendiri yang sederhana namun lezat dan harum.

Pembawa acara resepsi meledek Alireza tentang subsidi dan 1 juta toman yang akan diterima anaknya kelak, yang membuat doktor tersenyum.

Upacara telah berakhir, tetapi sang doktor dan ayahnya pengantin wanita berdiri di pintu gerbang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada para tamu.
Menarik melihat bagaimana sang doktor melayani anak berumur 7-8 tahun yang berteriak “Paman! Paman!” kepadanya. Dia memeluk dan memperlakukannya dengan baik.

Semua orang telah pulang dan sang doktor menuju dapur untuk menyampaikan terima kasih kepada mereka yang bekerja untuk resepsi. Ketika semua orang telah pergi, pengantin pria dan wanita masuk ke mobil mereka tanpa ada formalitas tambahan dan pulang ke rumah dengan keluarga.

Saya menyampaikan selamat kepada sahabat saya, Alireza,sang doktor, keluarganya yang terhormat, dan juga keluarga syahid Mahmoud Kaveh. Semoga mereka memiliki kehidupan yang baik di bawah bayangan Imam Zaman.

Sudah menjadi hak setiap orang untuk melaksanakan pernikahan dengan kemewahan, terlebih lagi menggunakan uang pribadi. Namun, sebagaimana nasihat Ali bin Abi Thalib, seorang pemimpin memiliki kekhususannya tersendiri. Dengan tanggung jawab yang lebih besar, dia harus bisa menyesuaikan dan merasakan kehidupan rakyat terbawah yang dipimpinnya. Wallahu’alam.

(Disarikan oleh : Moh. Hattem)

Sampaikanlah kebenaran dengan cara yang benar….