KESYAHIDAN RASIONAL

Tema kesyahidan menjadi sangat menawan dalam menganut agama dibanding butir-butir liku-liku abstrak soal teologi, hukum ataupun falsafah kalam. Mungkin karena terma ini lebih menyentuh sisi emosional keagamaan.

Kesyahidan lebih dipandang sebagai dorongan emosional dan moralitas atas keberpihakan terhadap agama. Bukan konsekuensi logis dari alasan rasional atas sebuah pilihan sadar  terhadap suatu keyakinan. Maka doktrin tentang mati syahid adalah “puncak” dari laku spirit yang sangat efektif dalam memantik jiwa untuk bergerak.

Mengakomodir dorongan alamiah dalam cara keberpihakan terhadap agama ini sangatlah efektif dalam  membangun dan memobilisasi gerakan atas nama menjunjung tinggi sipiritualitas individu menjadi sipritutalitas yang bersifat komunal. Maka langkah pertama yang dilakukan untuk membangunkan rasa beragama yang tidur adalah dengan menyentuh sisi-sisi yang paling sensitive dalam rasa kepemilikan terhadap nilai-nilai yang diyakini.

Berbicara tentang gerakan atas dasar agama, sama halnya berbicara dengan bagaimana menyentuh sisi yang paling sensitive dari rasa dalam diri manusia secara alami. Kepiawaian memobilisasi gerakan ini meliputi kepiawaian dalam memanajemen issue, manajemen trik dalam menerabas disetiap celah kerumunan emosi yang ada (gerak pembasisan = meminjam istilah kata teman ), kemampuan dalam mengakomodir emosi dan mengubahnya menjadi kekuatan gerak.

Sebagian kelompok memiliki kegesitan dalam memanfaatkan moment ini sehingga meski dasar yang dijadikan rujukan rapuh ia mampu mengelolanya menjadi gerakan yang massif dalam satu garis komando. Sementara sebagian meski memiliki dasar nilai yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan rasional lebih suka menyerahkan perubahan pada alam dan pada “sensasi rasa”  yang alamiah tanpa garis komando,  sendiri-sendiri dan berserak.

Sehingga kesyahidan itu menjadi alasan alamiah, bukan lagi komitmen logis dalam memperjuangkan sebuah nilai-nilai.

Wallahu’alam

#ratapan_atas_potensi_yang_berserak

TANPA JUDUL

Pencerapan indera terhadap suatu realitas membangun sebuah simpul-simpul pengertian yang membentuk sebuah persepsi

Saya berpikir dan merasa (subjektif : tentunya), bahwa ada sebuah masa dimana perjalanan manusia akan sampai pada suatu titik yang melampaui seluruh persepsi dan rasa yang berdiri di atas dualitas semisal suka, tidak suka, bahagia tidak bahagia, puas tidak puas dan sebagainya. Namun, bukan berarti ia akan kehilangan sisi-sisi kemanusiaan itu,

Ada sebuah masa pada titik  t  tertentu perjalanan pemikiran menemukan muara melampaui semua definisi dalam konteks dualitas itu.

Ia “selesai” dari ruang perseteruan batin dan diskursus dalam alam pikirnya. Dan yang hidup didalamnya hanyalah nilai-nilai yang menjadi keyakinan dirinya.

Wallahu’alam

TENTANG KESOMBONGAN

Bahwa kesombongan itu seperti noktah hitam ditengah malam yang gelap gulita. Begitu samarnya ia bahkan ia mampu menjelma menjadi segala macam bentuk sesuai gradasi dan proses metamorfosa hati dan pikiran manusia.
 
Kesombongan membayang disetiap langkah, saat sebagian orang berusaha memperbaiki citra dirinya,
Saat sibuk memproteksi diri dari segala macam kritikan,
Saat berpikir dan menerima bisikan-bisikan hingga ia tak mampu mengidentifikasi siapa dirinya,
Saat tengah menyibukkan diri dengan kata-kata langit,
Saat merasa sibuk untuk berbuat dan mengatasnamakan perjuangan kelas,
Saat menjauhi hiruk pikuk dengan merenungi segala realitas hingga ia lenyap dalam kesunyian yang diciptakannya sendiri,
Saat menuangkan pikiran untuk membuat wacana-wacana dan menggiring opini sesuai bisikan yang kemudian ia ciptakan,
Saat bercanda, serius atau antara keduanya,
Saat kaya maupun miskin,
Saat sendiri ataupun bersama,
Bahkan saat memanjatkan doa dan mengatasnamakan diri sebagai peminta-minta dihadapan Tuhan.
 
Kesombongan itu lembut, seperti lembutnya realitas yang paling lembut didunia ini. Kesombongan itu kasar, sekasar dan semenggelegar teriakan petir di langit. Kesombongan itu berirama, seperti nyayian, tembang atau pun kidung yang mengalun disetiap lembah kehidupan.
 
Kesombongan itu bergerak, segesit gerakan hati dan pikiran, ia akan menyelimuti setiap entitas tanpa ada kata permisi dan tanpa membuat orang merasakan kehadirannya

.

SIAPA SAYA HARI INI ?

Dunia hanya selebar beberapa inchi di depan cermin, begitulah kata sahabat yang saya kasihi.  Akhirnya manusia hanya seperti gundukan B612_20170309_173550 bperistiwa, peristiwa yang terkadang bersinambung terkadang  nampak hanya berdiri mematung sendirian.  Manusia yang hanya bertegur sapa lewat cermin, tertawa sendirian dengan imaginasi melayang seolah sedang terjadi peristiwa yang membuat hati gembira, sedih atau bahkan merana dan frustasi. Padahal ia hanyalah sendirian dibalik  papan 3 x 4 meter yang menaunginya.  Seluruh peristiwa hanya terjadi lewat onggokan benda berukuran beberapa inchi saja. Semua bermuara pada kosong…..

Lalu siapakah kita dibalik semua itu ? Manusia, seonggok daging yang terpenjara dalam alam virtual ?

Oh tidak. Manusia tidak hanya hidup cukup dengan persepsi dan kata-kata bijak,  begitu kata karib saya yang saya hormati.  Manusia tidak cukup hanya terbelenggu  dan fanatik pada pilihan ‘isme-isme’ yang getol ditawarkan oleh dunia. Isme-isme itu hanyalah alam persepsi , tak lebih dari itu.  Manusia tak cukup hanya hidup dialam persepsi. Ujung akhirnya, segala bentuk isme adalah pilihan baik disadari atau pun tidak. Dan pilihan terbaik saat manusia mampu  menempatkannya pada situasi yang tepat, tarik ulur konteksnya…dan tentu dengan pilihan normative yang mendasarinya untuk tidak keluar dari prinsip-prinsip dasar berperikemanusiaan dan berkeTuhanan.

Ini mengingatkan pada ungkapan Napoleon,”Akalku seperti kota-kotak penjual parfum yang dapat kubuka tutup kapanpun dan   kotak mana yang sesuai keinginan dan keperluanku.”  Begitulah, hidup tidaklah stagnan, ia bergerak dan terus bergerak mengikuti sunatullah.  Brown pernah mengungkapkannya dalam prinsip bahwa partikel sejatinya terus menerus  bergerak tanpa henti. Atau juga prinsip kekekalan energi yang mengatakan  energi tidaklah bisa diciptakan atau dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk dari bentuk satu ke bentuk lainnya. “Bermetamorfosa”  kalau orang biologi bilang. Bagi yang kental dengan pemikiran filsafat timur mungkin akan merujuk pada argumentasi Mulla Sadra dalam gerak substansialnya. Tapi bukan itu soal hidup ini,….sekali lagi hidup bukan sekedar persepsi, bukan sekedar pengetahuan atau konsepsi yang mengendap-endap di pikiran.

Manusia dengan segala misterinya, ia berada dalam dimensi yang terkadang tampak bertolak belakang dan dalam dualitas yang tarik menarik. Tapi lagi-lagi untuk menjadi tegak, ia harus mampu memilih dan memilah untuk merumuskan siapa dirinya dan kemana ia akan melangkah. Lihatlah ke dalam apakah kita telah memiliki tekad kuat yang berimbang dengan kelenturan, menyatukan gairah dengan  kesabaran, kesederhanaan dalam kekayaan, syukur dalam kekurangan,  sabar dalam kesulitan, berbuat banyak tapi tetap rendah hati, sholat  khusyuk tapi tetap memiliki rasa takut yang kuat akan dosa2 yang mungkin menyelimuti , memiliki keluasan pengetahuan yang tinggi tapi berbicara melalui perbuatannya, harapan-harapan yang sederhana sehingga jauh dari angan-angan, rasa ber_kekurangan yang sedikit, ruhaniah yang merasa puas dalam kesyukuran.

Siapakah anda dan siapakah saya hari ini, kemarin dan esok ? Mari bergandeng tangan, tanggalkan saja perseteruan yang berpangkal dari terlalu memandang lebih memotret diri sendiri.  Berbuat jauh lebih baik daripada diam. Anda adalah bagian dari saya dalam persaudaraan ini.  Salam damai….

#berdamai_dengan_diri

MANUSIA DALAM REALITAS DAYA TARIK DAN DAYA TOLAK

B612_20170309_175432b
Jombang,  9 Maret 2017

Proporsi paling besar dalam sebuah hubungan, baik  persahabatan,  hubungan kasih sayang, permusuhan, bahkan  kebencian  pada dasarnya adalah bentuk manifestasi dari gaya tarik dan gaya tolak yang  terdapat dalam dimensi manusia.  Pilihan berikutnya adalah seberapa banyak jiwa akan memberikan porsi paling besar dalam menghadapi fluktuasi realitas kehidupannya.

Manusia dengan proporsi penolakan yang dominan, ia akan senantiasa menciptakan bentuk permusuhan, manusia dengan proporsi yang hanya memiliki dominansi daya tarik  saja tanpa penolakan, mereka hanya akan memiliki penggemar,  manusia dengan kepribadian yang tidak mampu membuat tarikan ataupun tolakan, ia tidak akan dapat menggugah simpati, menggerakkan cinta, kasih sayang, permusuhan, atau pun bahkan kebencian dari orang sekitarnya, tetapi manusia  dengan kekuatan karakter menarik dan menolak dalam proporsi yang seimbang ia akan melahirkan pengikut.

Imam Ali Zainal Abidin, dalam doanya meminta,”Jagalah hamba dari menganggap hina orang yang tidak memiliki sesuatu atau menganggap utama orang yang memiliki kekayaan. Karena orang yang mulia adalah orang yang dimuliakan ketaatannya kepadaMu dan orang yang agung adalah  orang yang diagungkan penghambaannya kepadaMu.”

Ketaatan dan penghambaan pada Allah menjadi dua kata kunci dalam membangun karakter kemuliaan akan kedudukan kemanusiaan. Ia akan melahirkan kekuatan tarikan dan tolakan yang darinya akan muncul para pengikut, bukan penggemar, bukan fans yang hanya akan sekedar mengelukan.  Ketaatan dan penghambaan  menjadi sumber inspirasi kecerdasan manusia untuk melejitkan akal murninya sampai pada titik menggerakkan setiap manusia. Ketaatan dan penghambaan bukanlah realitas purba yang hanya sekedar “mengikut” tanpa kesadaran tentang pengetahuan akan diri. Ia hanya dilakukan oleh orang-orang yang telah selesai dengan dirinya, orang-orang yang mampu mengimplementasikan  dimensi ruhaniah  dalam gerakan tubuh visualnya, saat dimana Tuhan “menjelma” dalam setiap perilaku kemanusiaan”. Wallahu’alam

RAHASIA PEREMPUAN

IMG_20170331_194351
Jombang, 26 Februari 2017
Perempuan adalah rahasia. Ia adalah gambaran dari bumi atas langit yang menjulang, langit yang menumpahruahkan segala beban ketinggiannya dan menimpakannya pada bumi yang dalam realitas alam sebagai entitas yang diinjak, dan penerima segala luapan derita langit atas beban yang diembannya. Inilah kekuatan bumi. Kesanggupannya menjadi rendah agar langit tetap menjulang, derita atas penimpaan beban langit demi menjaga semesta dari ketimpangan dan dis_harmonisasi kosmos (ketersusunan) yang telah Allah atur sedemikian rupa. Sekali lagi inilah rahasia perempuan.

Rumi dalam ungkapan indahnya mengatakan “ Dalam pandangan akal, langit adalah pria dan bumi adalah wanita. Apapun yang telah dijatuhkan oleh langit, maka bumi akan memeliharanya.” Dalam ungkapan mistis filosofisnya, seorang Ibnu Arabi mengatakan,”Allah menciptakan pria dan wanita dalam satu lokus yang disebut manusia, sehingga dalam perjalanan ruhaniahnya, kerinduan pria atas wanita adalah tarikan ruhaniah dalam penyempurnaan atas dirinya.”

Inilah rahasia perempuan. Ia berada dalam mihrab ruhaniah, terejawantahkan dalam jilbab anggun yang menyelimutinya hingga ia akan tetap menjadi sebuah misteri di semesta ini. Sebuah rahasia yang tidak akan pernah habis untuk dikaji, layaknya keagungan perempuan-perempuan mulia Sayyidah Khadijah al kubra, Sayyidah Fathimah binti Muhammad, Sayyidah Maryam yang dihembuskan padanya ruhul kudus dan Sayyidah Asiyah isteri Fir’aun dengan rahasia kesabaran tiada tara.

Inilah rahasia perempuan. Ia adalah sebuah perpaduan alam yang memiliki gaya tarik dan gaya tolak sekaligus dalam dirinya. Ia memiliki kaidah yang mampu mengharmonisasikan nalar logis dan afektif, rasional dan intuisi, menjadi eleksir cinta yang akan menggugat setiap ketimpangan dan disharmoni di alam semesta ini.

Lebih jauh di “ruang rahasia perempuan”, Fathimah binti Muhammad pernah ditanya oleh Rasulullah tentang apa hal terbaik bagi perempuan, lalu beliau menjawab,”Yaitu ketika ia tidak melihat lelaki lain dan tidak dilihat oleh lelaki lain.” Itulah mihrab, hijab, singgasana, dan kerajaan perempuan.
Boleh jadi seorang perempuan adalah seorang ratu atau pemimpin di sebuah masyarakat, tapi dalam kaidah ruhaniah, ia tetap berada dalam mihrabnya, boleh jadi ia adalah seorang pakar dalam berbagai bidang ilmu dan bergaul dengan berbagai khalayak, tetapi ia tetap ada dalam mihrab keterjagaannya. Perempuan adalah rahasia, meski ia tampak tapi ia adalah realitas yang tersembunyi. Kenalilah perempuan dari jiwa perempuan itu sendiri….

#story_sabdasunyi,   Jombang, 26 Februari 2017

Sampaikanlah kebenaran dengan cara yang benar….