SIAPA SAYA HARI INI ?

Dunia hanya selebar beberapa inchi di depan cermin, begitulah kata sahabat yang saya kasihi.  Akhirnya manusia hanya seperti gundukan B612_20170309_173550 bperistiwa, peristiwa yang terkadang bersinambung terkadang  nampak hanya berdiri mematung sendirian.  Manusia yang hanya bertegur sapa lewat cermin, tertawa sendirian dengan imaginasi melayang seolah sedang terjadi peristiwa yang membuat hati gembira, sedih atau bahkan merana dan frustasi. Padahal ia hanyalah sendirian dibalik  papan 3 x 4 meter yang menaunginya.  Seluruh peristiwa hanya terjadi lewat onggokan benda berukuran beberapa inchi saja. Semua bermuara pada kosong…..

Lalu siapakah kita dibalik semua itu ? Manusia, seonggok daging yang terpenjara dalam alam virtual ?

Oh tidak. Manusia tidak hanya hidup cukup dengan persepsi dan kata-kata bijak,  begitu kata karib saya yang saya hormati.  Manusia tidak cukup hanya terbelenggu  dan fanatik pada pilihan ‘isme-isme’ yang getol ditawarkan oleh dunia. Isme-isme itu hanyalah alam persepsi , tak lebih dari itu.  Manusia tak cukup hanya hidup dialam persepsi. Ujung akhirnya, segala bentuk isme adalah pilihan baik disadari atau pun tidak. Dan pilihan terbaik saat manusia mampu  menempatkannya pada situasi yang tepat, tarik ulur konteksnya…dan tentu dengan pilihan normative yang mendasarinya untuk tidak keluar dari prinsip-prinsip dasar berperikemanusiaan dan berkeTuhanan.

Ini mengingatkan pada ungkapan Napoleon,”Akalku seperti kota-kotak penjual parfum yang dapat kubuka tutup kapanpun dan   kotak mana yang sesuai keinginan dan keperluanku.”  Begitulah, hidup tidaklah stagnan, ia bergerak dan terus bergerak mengikuti sunatullah.  Brown pernah mengungkapkannya dalam prinsip bahwa partikel sejatinya terus menerus  bergerak tanpa henti. Atau juga prinsip kekekalan energi yang mengatakan  energi tidaklah bisa diciptakan atau dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk dari bentuk satu ke bentuk lainnya. “Bermetamorfosa”  kalau orang biologi bilang. Bagi yang kental dengan pemikiran filsafat timur mungkin akan merujuk pada argumentasi Mulla Sadra dalam gerak substansialnya. Tapi bukan itu soal hidup ini,….sekali lagi hidup bukan sekedar persepsi, bukan sekedar pengetahuan atau konsepsi yang mengendap-endap di pikiran.

Manusia dengan segala misterinya, ia berada dalam dimensi yang terkadang tampak bertolak belakang dan dalam dualitas yang tarik menarik. Tapi lagi-lagi untuk menjadi tegak, ia harus mampu memilih dan memilah untuk merumuskan siapa dirinya dan kemana ia akan melangkah. Lihatlah ke dalam apakah kita telah memiliki tekad kuat yang berimbang dengan kelenturan, menyatukan gairah dengan  kesabaran, kesederhanaan dalam kekayaan, syukur dalam kekurangan,  sabar dalam kesulitan, berbuat banyak tapi tetap rendah hati, sholat  khusyuk tapi tetap memiliki rasa takut yang kuat akan dosa2 yang mungkin menyelimuti , memiliki keluasan pengetahuan yang tinggi tapi berbicara melalui perbuatannya, harapan-harapan yang sederhana sehingga jauh dari angan-angan, rasa ber_kekurangan yang sedikit, ruhaniah yang merasa puas dalam kesyukuran.

Siapakah anda dan siapakah saya hari ini, kemarin dan esok ? Mari bergandeng tangan, tanggalkan saja perseteruan yang berpangkal dari terlalu memandang lebih memotret diri sendiri.  Berbuat jauh lebih baik daripada diam. Anda adalah bagian dari saya dalam persaudaraan ini.  Salam damai….

#berdamai_dengan_diri

MANUSIA DALAM REALITAS DAYA TARIK DAN DAYA TOLAK

B612_20170309_175432b
Jombang,  9 Maret 2017

Proporsi paling besar dalam sebuah hubungan, baik  persahabatan,  hubungan kasih sayang, permusuhan, bahkan  kebencian  pada dasarnya adalah bentuk manifestasi dari gaya tarik dan gaya tolak yang  terdapat dalam dimensi manusia.  Pilihan berikutnya adalah seberapa banyak jiwa akan memberikan porsi paling besar dalam menghadapi fluktuasi realitas kehidupannya.

Manusia dengan proporsi penolakan yang dominan, ia akan senantiasa menciptakan bentuk permusuhan, manusia dengan proporsi yang hanya memiliki dominansi daya tarik  saja tanpa penolakan, mereka hanya akan memiliki penggemar,  manusia dengan kepribadian yang tidak mampu membuat tarikan ataupun tolakan, ia tidak akan dapat menggugah simpati, menggerakkan cinta, kasih sayang, permusuhan, atau pun bahkan kebencian dari orang sekitarnya, tetapi manusia  dengan kekuatan karakter menarik dan menolak dalam proporsi yang seimbang ia akan melahirkan pengikut.

Imam Ali Zainal Abidin, dalam doanya meminta,”Jagalah hamba dari menganggap hina orang yang tidak memiliki sesuatu atau menganggap utama orang yang memiliki kekayaan. Karena orang yang mulia adalah orang yang dimuliakan ketaatannya kepadaMu dan orang yang agung adalah  orang yang diagungkan penghambaannya kepadaMu.”

Ketaatan dan penghambaan pada Allah menjadi dua kata kunci dalam membangun karakter kemuliaan akan kedudukan kemanusiaan. Ia akan melahirkan kekuatan tarikan dan tolakan yang darinya akan muncul para pengikut, bukan penggemar, bukan fans yang hanya akan sekedar mengelukan.  Ketaatan dan penghambaan  menjadi sumber inspirasi kecerdasan manusia untuk melejitkan akal murninya sampai pada titik menggerakkan setiap manusia. Ketaatan dan penghambaan bukanlah realitas purba yang hanya sekedar “mengikut” tanpa kesadaran tentang pengetahuan akan diri. Ia hanya dilakukan oleh orang-orang yang telah selesai dengan dirinya, orang-orang yang mampu mengimplementasikan  dimensi ruhaniah  dalam gerakan tubuh visualnya, saat dimana Tuhan “menjelma” dalam setiap perilaku kemanusiaan”. Wallahu’alam

RAHASIA PEREMPUAN

b612_20170227_172650b
Jombang, 26 Februari 2017
Perempuan adalah rahasia. Ia adalah gambaran dari bumi atas langit yang menjulang, langit yang menumpahruahkan segala beban ketinggiannya dan menimpakannya pada bumi yang dalam realitas alam sebagai entitas yang diinjak, dan penerima segala luapan derita langit atas beban yang diembannya. Inilah kekuatan bumi. Kesanggupannya menjadi rendah agar langit tetap menjulang, derita atas penimpaan beban langit demi menjaga semesta dari ketimpangan dan dis_harmonisasi kosmos (ketersusunan) yang telah Allah atur sedemikian rupa. Sekali lagi inilah rahasia perempuan.

Rumi dalam ungkapan indahnya mengatakan “ Dalam pandangan akal, langit adalah pria dan bumi adalah wanita. Apapun yang telah dijatuhkan oleh langit, maka bumi akan memeliharanya.” Dalam ungkapan mistis filosofisnya, seorang Ibnu Arabi mengatakan,”Allah menciptakan pria dan wanita dalam satu lokus yang disebut manusia, sehingga dalam perjalanan ruhaniahnya, kerinduan pria atas wanita adalah tarikan ruhaniah dalam penyempurnaan atas dirinya.”

Inilah rahasia perempuan. Ia berada dalam mihrab ruhaniah, terejawantahkan dalam jilbab anggun yang menyelimutinya hingga ia akan tetap menjadi sebuah misteri di semesta ini. Sebuah rahasia yang tidak akan pernah habis untuk dikaji, layaknya keagungan perempuan-perempuan mulia Sayyidah Khadijah al kubra, Sayyidah Fathimah binti Muhammad, Sayyidah Maryam yang dihembuskan padanya ruhul kudus dan Sayyidah Asiyah isteri Fir’aun dengan rahasia kesabaran tiada tara.

Inilah rahasia perempuan. Ia adalah sebuah perpaduan alam yang memiliki gaya tarik dan gaya tolak sekaligus dalam dirinya. Ia memiliki kaidah yang mampu mengharmonisasikan nalar logis dan afektif, rasional dan intuisi, menjadi eleksir cinta yang akan menggugat setiap ketimpangan dan disharmoni di alam semesta ini.

Lebih jauh di “ruang rahasia perempuan”, Fathimah binti Muhammad pernah ditanya oleh Rasulullah tentang apa hal terbaik bagi perempuan, lalu beliau menjawab,”Yaitu ketika ia tidak melihat lelaki lain dan tidak dilihat oleh lelaki lain.” Itulah mihrab, hijab, singgasana, dan kerajaan perempuan.
Boleh jadi seorang perempuan adalah seorang ratu atau pemimpin di sebuah masyarakat, tapi dalam kaidah ruhaniah, ia tetap berada dalam mihrabnya, boleh jadi ia adalah seorang pakar dalam berbagai bidang ilmu dan bergaul dengan berbagai khalayak, tetapi ia tetap ada dalam mihrab keterjagaannya. Perempuan adalah rahasia, meski ia tampak tapi ia adalah realitas yang tersembunyi. Kenalilah perempuan dari jiwa perempuan itu sendiri….

#story_sabdasunyi,   Jombang, 26 Februari 2017

HAMBA ADALAH HAMBA

Tidak dipungkiri bahwa penyelaman terhadap hakikat sifat Allah baik apa, dan bagaimananya merupakan perihal yang tak dapat dijangkau oleh tangan-tangan pembuktian yang pendek, dan “mustahil” sampai pada puncaknya. Bahkan harapan para ‘arifin pun “tak pernah” sampai pada jantung kebenaran itu sendiri. Sementara pada sisi yang lain segala pembuktian yang rumit yang disodorkan oleh para ulama hikmah, para filosof atau berbagai studi ahli ‘irfan tentang nama dan sifat Allah hanya benar dalam lingkaran diskursus dan metode semata.Akan tetapi ilmu tentang ilmu masih tertutup oleh hijab yang tebal, kecuali seorang hamba yang selalu berusaha membongkar segala hijab tebal itu melalui wujud dan tindak ketaqwaan sebagai seorang hamba, dan Allah memberikan cahayaNya . Ini bukan sebagai sebuah sistem kemitraan atau simbiosis mutualisme dalam konteks hak dan kewajiban, bahwa saat seorang hamba telah berdoa dan berusaha, maka Allah menjadi “wajib” memenuhinya.

Adalah Allah yang memiliki segala kemutlakan untuk memenuhi atau tidak memenuhinya sesuai kelayakan hamba menurut pandanganNya. Pengetahuan saja tidak cukup untuk menjadi bekal seorang hamba menuju pada cahaya-Nya. Bahkan amalan baik saja tidak cukup untuk sampai kepada-Nya.

Imam Shadiq mengatakan, bahwa dalam menetapkan sifat yang benar bagi Allah adalah berada dalam lingkaran keharusan untuk tidak keluar dari apa yang telah ditetapkan Al Qur’an. Jika seseorang ingin menyifati Allah dengan sifat-sifat yang dia peroleh dari inspirasi akalnya yang terbatas dan dilumuri berbagai anggapan tanpa petunjuk makrifat dan petunjuk Allah, dapat dipastikan ia akan terjerumus ke dalam ‘penghapusan sifat-sifat Allah (kesesatan ta’thil) dan terjebak ke dalam penyerupaan Allah dengan makhlukNya (kesesatan tasybiyah)

Imam Abu Ja’far mengatakan yang redaksinya kurang lebih ,”Sesungguhnya Allah tidak bisa disifati. Bagaimana mungkin Dia bisa disifati sedang dalam Kitab-Nya Dia berkata,” Dan mereka tidak menilai Allah dengan sebenar-benarnya penilaian. Dia tidak dapat disifati dengan qadar, karena pasti lebih besar dari itu, dan bahwasanya Rasulullah pun “tidak dapat disifati” . Sebab bagaimana mungkin bisa disifati seorang hamba (yang dirinya) dihijabi oleh Allah dengan tujuh hijab dan yang ketaatannya di dunia dijadikan-Nya ketaatan kepada-Nya di langit. Apa-apa yang disampaikannya kepadamu maka taatilah. Hal tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah pada dasarnya tidaklah bisa disifati. Segala bentuk upaya pensifatan terhadap manusia paripurna pun hanyalah sebuah diskursus pada alam pikir manusia yang memiiki ribuan hijab. Apalagi kepada Sang Pencipta.

Penekanan dalam poin ini bukanlah untuk menafikan bahwa diskursus itu tidak perlu, tetapi hanya menyampaikan bahwa manusia adalah hamba dari Sang Pencipta dalam pengertian sejatinya hamba sahaya, tanpa atribut apapun. Seperti dalam cuplikan doa yang diajarkan Sayyidina Ali, “ Maha Suci Tuhan pemilik segala kemuliaan, dari segala sifat yang mereka sifatkan untuk-Nya, salam sejahtera untuk para Rasul dan segala puji bagi Allah pemiik Semesta Alam.”

Maka benarlah adanya, bahwa segala bentuk ilmu yang ada pada manusia hanyalah mukadimah untuk sebuah perjalanan ruhaniah yang panjang dan tidak mudah.

Wallahu’alam

Tunduk

Yang lebih sulit dari memahami pengetahuan makrifat adalah berdiri dg sikap lurus (istiqomah) dihadapan Allah dg rasa malu dan sebenar-benarnya malu ketika menyadari bahwa dirinya tidak mampu melaksanakan apa yg menjadi perintahNya dan menjauh dr apa yg dilarangNya. Yang lebih tinggi dari pengetahuan tentang kepasrahan adalah saat kita bersujud dengan mengarahkan seluruh mata batin bersamaan dg raga yg sujud dengan mengingat maqam kehinaan, kelemaham, ketakberdayaan, melihat dirinya berada ditempat kehadiran kudus Sang Maha Raja yang semua partikel dan atom serta segala yang maujud tunduk pada kekuasaan, keperkasaan dan ketetapanNya. Yang lebih sulit dari mengingat tentang bagaimana pemahaman kita akan konsep kehadiranNya disetiap sesuatu adalah saat membuang segala ingatan tentang selainNya kecuali hanya mengingat kemandirian Dzat Sucinya, dan bahwa kemandirianNyalah, maka seluruh fenomena alam ini ada, meliputi segala jagad realitas dan bergantung hanya kepadaNya. Yang sulit dari memahami pengetahuan tentang rahasia makrifat kepadaNya adalah mengingatNya dalam setiap berdiri, duduk dan berbaring dalam NamaNya 

Menafsirkan Tuhan dalam Perangkap Pikir Manusia

 

menulis

 

( Tulisan ini adalah sebuah coment saya di facebook dalam sebuah obrolan ringan )

 

Setiap pensifatan Tuhan yang berasal dari inspirasi akal adalah definisi akal tentang-Nya. Begitu seterusnya dan seterusnya sehingga manusia akan terbentur dalam lingkaran aktifitas akal yang berupa pemikiran tentang upaya memahami wujud tak terbatas dengan batasannya yang ada pada dirinya sendiri. Bagaimana mengenali Tuhan sementara manusia seringkali memperlakukan Tuhan sebagai pelayan untuk tujuan memenuhi kepentingannya, merumuskan wujudNya dalam gambaran empiris layaknya lukisan oleh pelukisnya, memahami esensinya dengan logika yang bersumber dari nalar yang masih terus bertanya. Ini seperti sebuah lingkaran tak berujung.

Tuhan bukanlah sebuah kosmos (ketersusunan). Kata “Ahad” bukan sebagai tunggal dalam pengertian bilangan semata. Setiap pertanyaan “dalam apa Dia berada “, berarti manusia telah memperangkapNya dalam sebuah tempat. Dia maujud tetapi tidak melalui fenomena kemunculan dari sesuatu yang tiada menjadi ada. Dia meliputi segala sesuatu, bersama dalam segala sesuatu tetapi tidak terjamah oleh inderawi dan tidak dalam konotasi keterpisahan dan kebersamaan fisikal. Dia berbuat tanpa konotasi gerakan.

Jika seorang Mulla Sadra dalam konsepnya tentang gerak substansial dan pemahamannya tentang gradasi menyatakan, setiap hamba sejatinya bergerak terus menerus menuju kembali kepadaNya, sebab seluruh penciptaanNya adalah hembusan dari RuhNya sehingga ada masa saat ia akan kembali pada penciptanya. Maka sebuah keniscayaan pula jika berbicara tentangNya adalah berbicara perihal yang Awal dan Yang Akhir dari suatu perjalanan.

Pun demikian ketika seorang Ibnu Arabi menyatakan bahwa sejatinya Penciptaan Semesta ini adalah berawal dari cinta. Setiap kali Tuhan menciptakan sesuatu yang bersifat sementara, Dia menciptakannya secara berpasangan, sebagai dua hal yang terkait ataupun berlawanan. Pasangan yang paling sering disebutkan adalah langit dan bumi.

Ketika diturunkan pada konteks kemanusiaan langit digambarkan sebagai pria, sedangkan bumi digambarkan sebagai wanita. Sifat langit adalah pemberi limpahan pada bumi, dan bumi adalah simbol penerima limpahan itu. Ibnu Arabi menyebutnya bahwa pria dan wanita memiliki lokus yang sama, yaitu manusia. Artinya, bisa pula digambarkan bahwa ketiadaan salah satu pihak adalah sebuah ketidaksempurnaan. Dalam konteks perjalanan spiritual, Ibnu Arabi menyatakan bahwa perempuan digambarkan sebagai pengejawantahan sifat Jamaliyah, sedangkan pria digambarkan sebagai sifat JalaliyahNya. Dan keduanya bersumber dari yang sama, yaitu Ketunggalan MaujudNya.

Ada sebuah ungkapan yang menarik pula dari Ibnu Arabi menurut saya mengenai pendapatnya, “Kerinduan seorang pria terhadap wanita adalah seperti layaknya kerinduan keseluruhan terhadap bagiannya”. Dan sejatinya ini adalah sebuah perjalanan ruhaniah menuju Tuhannya. Wallahu’alam

TENTANG REZEKI

mencari rezekiSegala puji bagi Allah azza wajalla, shalawat dan salam atas Rasulullah dan ahlul baitnya yang suci. Saat saya menulis tentang ini, sebenarnya saya tidak memiliki kapasitas untuk membicarakan pembahasan ini, akan tetapi saya sedang mencoba belajar memahami dengan segala kekerdilan pemikiran saya berkaitan tentang bagaimana Ahlul Bait mengajarkan bagaimana seharusnya seorang hamba memahami rejeki yang Allah limpahkan kepada manusia. Semoga Allah mengampuni saya jika terjadi kesalahan dalam memahaminya.

Salah satu tanda benarnya keyakinan seorang Muslim adalah bahwa dia tidak mau memperoleh  ridha manusia  dengan memperoleh kebencian dari Allah, dan tidak mencaci mereka atas apa yang tidak diberikan Allah kepadanya. Sebab rezeki itu tidak dapat digiring oleh ambisi orang yang berambisi (terhadapnya) dan tidak pula dapat dicegah oleh ketidaksukaan orang yang tidak suka. Kalau sekiranya  salah seorang diantara kalian lari dari rezekinya sebagaimana dia lari dari kematian, niscaya rezeki tersebut tetap akan menemukannya, sebagaimana halnya dengan kematian yang menemuinya. Sesunguhnya Allah dengan keadilan dan kebencianNya, menjadikan ketentraman dan kesenangan (terletak) dalam keyakinan dan keridhaan, dan menjadikan kegelisahan dan kesedihan (terletak) dalam keraguan dan kebencian (Imam Hussein as)

 Seseorang yang ingin mencari perkenan manusia dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dapat menguasai hati dan pikiran mereka, sesungguhnya dia melakukan semua itu karena keyakinan bahwa orang-orang tersebut memegang peranan penting dan menentukan bagi kelancaran rezekinya. Ada kalanya tanpa disadari, hati dan pikiran kita telah terselimut oleh sebuah ambisi yang halus dan mperlahan-lahan mengarahkan kita pada arah yang menjauh dari keyakinan kita akan nilai-nilai tauhid. Orang yang memiliki keyakinan yang benar akan merasa berkewajiban untuk berupaya mencari rezeki pada setiap kesempatan. Bahkan akan dilakukannya secara rasional dan syar’i. Secara sadar orang yang memiliki keyakinan penuh, tidak akan berusaha untuk menutup pintu rezeki melalui jalan apapun, seraya meyakini bahwa segala sesuatu itu bersumber dari Sang Maha Mutlak.  Pencari, mencari dan yang dicari semua berasal dari sumber yang satu yaitu Allah SWT.

Dalam telaah hadist oleh Imam Khomeini mengenai ucapan Imam Abu Abdillah as yang berbunyi “Dan hendaklah dia tidak mencaci maki mereka atas apa yang tidak diberikan Allah kepadanya”, beliau mengatakan :

Pertama,  hendaknya seseorang tidak mengumpat atau mencaci maki karena tidak diberikannya harta (materi) yang dia tidak memilikinya, tetapi orang lain memilikinya. Sebab seseorang yang memiliki keyakinan pasti menyadari bahwa harta atau  materi yang tidak dianugerahkan padanya tentu tidak akan memberikan maslahat baginya, atau tidak menjadikan kebaikan apabila diberikan melalui tangan orang lain. Tetapi Allah akan memberikan kepadanya melalui jalan yang tidak terduga-duga.

Kedua, hendaknya seseorang tidak mencela siapapun atas apa yang tidak dianugerahkan padanya. Hal ini sejalan dengan ucapan Imam Husein as berkenaan dengan penciptaan, “Kalau sekiranya seseorang itu tahu bagaimana Allah menjadikan makhluk ini, niscaya dia tidak akan mencela siapapun.”

Allah menempatkan ketenangan dan kesenangan pada keyakinan dan Ridha, dan menempatkan kegelisahan dan kesedihan pada keraguan dan kebencian berdasarkan Prinsip Keadilan.

Seseorang yang beriman kepada Allah dan ketentuanNya dengan keimanan yang betul-betul yakin, dan bersandar pada Sandaran Yang Maha Kuat dalam bentuknya yang mutlak. Maka di tengah kesulitan hidupnya, bahkan pada saat puncak kesulitan, ia akan menganggapnya ringan. Seseorang yang memiliki keyakinan penuh akan memiliki cara pandang yang berbeda dan cara hidup yang berbeda dalam mensikapi segala persoalan hidupnya. Bagi orang-orang yang menyandarkan diri pada sarana-sarana lahiriah/material dalam mencari rezeki selamanya berada dalam kegelisahan dan ketidaktenangan. Seseorang dengan karakter demikian akan menganggap sangat serius kesuliyannya, sebab mereka tidak memiliki alternative pemecahan lain berkaitan dengan kemasalahatan Ilahi yang tersembunyi dan hanya mampu ditangkap oleh orang yang memiliki keyakinan penuh. Dengan kata lain orang-orang yang menyandarkan kebahagiaannya pada keberhasilan hidup duniawi, akan berhadapan dengan penderitaan dan kelelahan batin dalam kehidupannya.

Alhamdulillah, wal awwalu wal akhiru…

 

Sampaikanlah kebenaran dengan cara yang benar….