HAMBA ADALAH HAMBA

Tidak dipungkiri bahwa penyelaman terhadap hakikat sifat Allah baik apa, dan bagaimananya merupakan perihal yang tak dapat dijangkau oleh tangan-tangan pembuktian yang pendek, dan “mustahil” sampai pada puncaknya. Bahkan harapan para ‘arifin pun “tak pernah” sampai pada jantung kebenaran itu sendiri. Sementara pada sisi yang lain segala pembuktian yang rumit yang disodorkan oleh para ulama hikmah, para filosof atau berbagai studi ahli ‘irfan tentang nama dan sifat Allah hanya benar dalam lingkaran diskursus dan metode semata.Akan tetapi ilmu tentang ilmu masih tertutup oleh hijab yang tebal, kecuali seorang hamba yang selalu berusaha membongkar segala hijab tebal itu melalui wujud dan tindak ketaqwaan sebagai seorang hamba, dan Allah memberikan cahayaNya . Ini bukan sebagai sebuah sistem kemitraan atau simbiosis mutualisme dalam konteks hak dan kewajiban, bahwa saat seorang hamba telah berdoa dan berusaha, maka Allah menjadi “wajib” memenuhinya.

Adalah Allah yang memiliki segala kemutlakan untuk memenuhi atau tidak memenuhinya sesuai kelayakan hamba menurut pandanganNya. Pengetahuan saja tidak cukup untuk menjadi bekal seorang hamba menuju pada cahaya-Nya. Bahkan amalan baik saja tidak cukup untuk sampai kepada-Nya.

Imam Shadiq mengatakan, bahwa dalam menetapkan sifat yang benar bagi Allah adalah berada dalam lingkaran keharusan untuk tidak keluar dari apa yang telah ditetapkan Al Qur’an. Jika seseorang ingin menyifati Allah dengan sifat-sifat yang dia peroleh dari inspirasi akalnya yang terbatas dan dilumuri berbagai anggapan tanpa petunjuk makrifat dan petunjuk Allah, dapat dipastikan ia akan terjerumus ke dalam ‘penghapusan sifat-sifat Allah (kesesatan ta’thil) dan terjebak ke dalam penyerupaan Allah dengan makhlukNya (kesesatan tasybiyah)

Imam Abu Ja’far mengatakan yang redaksinya kurang lebih ,”Sesungguhnya Allah tidak bisa disifati. Bagaimana mungkin Dia bisa disifati sedang dalam Kitab-Nya Dia berkata,” Dan mereka tidak menilai Allah dengan sebenar-benarnya penilaian. Dia tidak dapat disifati dengan qadar, karena pasti lebih besar dari itu, dan bahwasanya Rasulullah pun “tidak dapat disifati” . Sebab bagaimana mungkin bisa disifati seorang hamba (yang dirinya) dihijabi oleh Allah dengan tujuh hijab dan yang ketaatannya di dunia dijadikan-Nya ketaatan kepada-Nya di langit. Apa-apa yang disampaikannya kepadamu maka taatilah. Hal tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah pada dasarnya tidaklah bisa disifati. Segala bentuk upaya pensifatan terhadap manusia paripurna pun hanyalah sebuah diskursus pada alam pikir manusia yang memiiki ribuan hijab. Apalagi kepada Sang Pencipta.

Penekanan dalam poin ini bukanlah untuk menafikan bahwa diskursus itu tidak perlu, tetapi hanya menyampaikan bahwa manusia adalah hamba dari Sang Pencipta dalam pengertian sejatinya hamba sahaya, tanpa atribut apapun. Seperti dalam cuplikan doa yang diajarkan Sayyidina Ali, “ Maha Suci Tuhan pemilik segala kemuliaan, dari segala sifat yang mereka sifatkan untuk-Nya, salam sejahtera untuk para Rasul dan segala puji bagi Allah pemiik Semesta Alam.”

Maka benarlah adanya, bahwa segala bentuk ilmu yang ada pada manusia hanyalah mukadimah untuk sebuah perjalanan ruhaniah yang panjang dan tidak mudah.

Wallahu’alam

Tunduk

Yang lebih sulit dari memahami pengetahuan makrifat adalah berdiri dg sikap lurus (istiqomah) dihadapan Allah dg rasa malu dan sebenar-benarnya malu ketika menyadari bahwa dirinya tidak mampu melaksanakan apa yg menjadi perintahNya dan menjauh dr apa yg dilarangNya. Yang lebih tinggi dari pengetahuan tentang kepasrahan adalah saat kita bersujud dengan mengarahkan seluruh mata batin bersamaan dg raga yg sujud dengan mengingat maqam kehinaan, kelemaham, ketakberdayaan, melihat dirinya berada ditempat kehadiran kudus Sang Maha Raja yang semua partikel dan atom serta segala yang maujud tunduk pada kekuasaan, keperkasaan dan ketetapanNya. Yang lebih sulit dari mengingat tentang bagaimana pemahaman kita akan konsep kehadiranNya disetiap sesuatu adalah saat membuang segala ingatan tentang selainNya kecuali hanya mengingat kemandirian Dzat Sucinya, dan bahwa kemandirianNyalah, maka seluruh fenomena alam ini ada, meliputi segala jagad realitas dan bergantung hanya kepadaNya. Yang sulit dari memahami pengetahuan tentang rahasia makrifat kepadaNya adalah mengingatNya dalam setiap berdiri, duduk dan berbaring dalam NamaNya 

Menafsirkan Tuhan dalam Perangkap Pikir Manusia

 

menulis

 

( Tulisan ini adalah sebuah coment saya di facebook dalam sebuah obrolan ringan )

 

Setiap pensifatan Tuhan yang berasal dari inspirasi akal adalah definisi akal tentang-Nya. Begitu seterusnya dan seterusnya sehingga manusia akan terbentur dalam lingkaran aktifitas akal yang berupa pemikiran tentang upaya memahami wujud tak terbatas dengan batasannya yang ada pada dirinya sendiri. Bagaimana mengenali Tuhan sementara manusia seringkali memperlakukan Tuhan sebagai pelayan untuk tujuan memenuhi kepentingannya, merumuskan wujudNya dalam gambaran empiris layaknya lukisan oleh pelukisnya, memahami esensinya dengan logika yang bersumber dari nalar yang masih terus bertanya. Ini seperti sebuah lingkaran tak berujung.

Tuhan bukanlah sebuah kosmos (ketersusunan). Kata “Ahad” bukan sebagai tunggal dalam pengertian bilangan semata. Setiap pertanyaan “dalam apa Dia berada “, berarti manusia telah memperangkapNya dalam sebuah tempat. Dia maujud tetapi tidak melalui fenomena kemunculan dari sesuatu yang tiada menjadi ada. Dia meliputi segala sesuatu, bersama dalam segala sesuatu tetapi tidak terjamah oleh inderawi dan tidak dalam konotasi keterpisahan dan kebersamaan fisikal. Dia berbuat tanpa konotasi gerakan.

Jika seorang Mulla Sadra dalam konsepnya tentang gerak substansial dan pemahamannya tentang gradasi menyatakan, setiap hamba sejatinya bergerak terus menerus menuju kembali kepadaNya, sebab seluruh penciptaanNya adalah hembusan dari RuhNya sehingga ada masa saat ia akan kembali pada penciptanya. Maka sebuah keniscayaan pula jika berbicara tentangNya adalah berbicara perihal yang Awal dan Yang Akhir dari suatu perjalanan.

Pun demikian ketika seorang Ibnu Arabi menyatakan bahwa sejatinya Penciptaan Semesta ini adalah berawal dari cinta. Setiap kali Tuhan menciptakan sesuatu yang bersifat sementara, Dia menciptakannya secara berpasangan, sebagai dua hal yang terkait ataupun berlawanan. Pasangan yang paling sering disebutkan adalah langit dan bumi.

Ketika diturunkan pada konteks kemanusiaan langit digambarkan sebagai pria, sedangkan bumi digambarkan sebagai wanita. Sifat langit adalah pemberi limpahan pada bumi, dan bumi adalah simbol penerima limpahan itu. Ibnu Arabi menyebutnya bahwa pria dan wanita memiliki lokus yang sama, yaitu manusia. Artinya, bisa pula digambarkan bahwa ketiadaan salah satu pihak adalah sebuah ketidaksempurnaan. Dalam konteks perjalanan spiritual, Ibnu Arabi menyatakan bahwa perempuan digambarkan sebagai pengejawantahan sifat Jamaliyah, sedangkan pria digambarkan sebagai sifat JalaliyahNya. Dan keduanya bersumber dari yang sama, yaitu Ketunggalan MaujudNya.

Ada sebuah ungkapan yang menarik pula dari Ibnu Arabi menurut saya mengenai pendapatnya, “Kerinduan seorang pria terhadap wanita adalah seperti layaknya kerinduan keseluruhan terhadap bagiannya”. Dan sejatinya ini adalah sebuah perjalanan ruhaniah menuju Tuhannya. Wallahu’alam

TENTANG REZEKI

mencari rezekiSegala puji bagi Allah azza wajalla, shalawat dan salam atas Rasulullah dan ahlul baitnya yang suci. Saat saya menulis tentang ini, sebenarnya saya tidak memiliki kapasitas untuk membicarakan pembahasan ini, akan tetapi saya sedang mencoba belajar memahami dengan segala kekerdilan pemikiran saya berkaitan tentang bagaimana Ahlul Bait mengajarkan bagaimana seharusnya seorang hamba memahami rejeki yang Allah limpahkan kepada manusia. Semoga Allah mengampuni saya jika terjadi kesalahan dalam memahaminya.

Salah satu tanda benarnya keyakinan seorang Muslim adalah bahwa dia tidak mau memperoleh  ridha manusia  dengan memperoleh kebencian dari Allah, dan tidak mencaci mereka atas apa yang tidak diberikan Allah kepadanya. Sebab rezeki itu tidak dapat digiring oleh ambisi orang yang berambisi (terhadapnya) dan tidak pula dapat dicegah oleh ketidaksukaan orang yang tidak suka. Kalau sekiranya  salah seorang diantara kalian lari dari rezekinya sebagaimana dia lari dari kematian, niscaya rezeki tersebut tetap akan menemukannya, sebagaimana halnya dengan kematian yang menemuinya. Sesunguhnya Allah dengan keadilan dan kebencianNya, menjadikan ketentraman dan kesenangan (terletak) dalam keyakinan dan keridhaan, dan menjadikan kegelisahan dan kesedihan (terletak) dalam keraguan dan kebencian (Imam Hussein as)

 Seseorang yang ingin mencari perkenan manusia dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dapat menguasai hati dan pikiran mereka, sesungguhnya dia melakukan semua itu karena keyakinan bahwa orang-orang tersebut memegang peranan penting dan menentukan bagi kelancaran rezekinya. Ada kalanya tanpa disadari, hati dan pikiran kita telah terselimut oleh sebuah ambisi yang halus dan mperlahan-lahan mengarahkan kita pada arah yang menjauh dari keyakinan kita akan nilai-nilai tauhid. Orang yang memiliki keyakinan yang benar akan merasa berkewajiban untuk berupaya mencari rezeki pada setiap kesempatan. Bahkan akan dilakukannya secara rasional dan syar’i. Secara sadar orang yang memiliki keyakinan penuh, tidak akan berusaha untuk menutup pintu rezeki melalui jalan apapun, seraya meyakini bahwa segala sesuatu itu bersumber dari Sang Maha Mutlak.  Pencari, mencari dan yang dicari semua berasal dari sumber yang satu yaitu Allah SWT.

Dalam telaah hadist oleh Imam Khomeini mengenai ucapan Imam Abu Abdillah as yang berbunyi “Dan hendaklah dia tidak mencaci maki mereka atas apa yang tidak diberikan Allah kepadanya”, beliau mengatakan :

Pertama,  hendaknya seseorang tidak mengumpat atau mencaci maki karena tidak diberikannya harta (materi) yang dia tidak memilikinya, tetapi orang lain memilikinya. Sebab seseorang yang memiliki keyakinan pasti menyadari bahwa harta atau  materi yang tidak dianugerahkan padanya tentu tidak akan memberikan maslahat baginya, atau tidak menjadikan kebaikan apabila diberikan melalui tangan orang lain. Tetapi Allah akan memberikan kepadanya melalui jalan yang tidak terduga-duga.

Kedua, hendaknya seseorang tidak mencela siapapun atas apa yang tidak dianugerahkan padanya. Hal ini sejalan dengan ucapan Imam Husein as berkenaan dengan penciptaan, “Kalau sekiranya seseorang itu tahu bagaimana Allah menjadikan makhluk ini, niscaya dia tidak akan mencela siapapun.”

Allah menempatkan ketenangan dan kesenangan pada keyakinan dan Ridha, dan menempatkan kegelisahan dan kesedihan pada keraguan dan kebencian berdasarkan Prinsip Keadilan.

Seseorang yang beriman kepada Allah dan ketentuanNya dengan keimanan yang betul-betul yakin, dan bersandar pada Sandaran Yang Maha Kuat dalam bentuknya yang mutlak. Maka di tengah kesulitan hidupnya, bahkan pada saat puncak kesulitan, ia akan menganggapnya ringan. Seseorang yang memiliki keyakinan penuh akan memiliki cara pandang yang berbeda dan cara hidup yang berbeda dalam mensikapi segala persoalan hidupnya. Bagi orang-orang yang menyandarkan diri pada sarana-sarana lahiriah/material dalam mencari rezeki selamanya berada dalam kegelisahan dan ketidaktenangan. Seseorang dengan karakter demikian akan menganggap sangat serius kesuliyannya, sebab mereka tidak memiliki alternative pemecahan lain berkaitan dengan kemasalahatan Ilahi yang tersembunyi dan hanya mampu ditangkap oleh orang yang memiliki keyakinan penuh. Dengan kata lain orang-orang yang menyandarkan kebahagiaannya pada keberhasilan hidup duniawi, akan berhadapan dengan penderitaan dan kelelahan batin dalam kehidupannya.

Alhamdulillah, wal awwalu wal akhiru…

 

BAGAIMANA AKU PERCAYA KATA-KATA, SEDANG ENGKAU TERIKAT DALAM RUANG WAKTU YANG LABIL

anakBagiku, hati adalah keabadian, ia adalah pencari sekaligus penemu kesejatian. Aku berjalan, terus berjalan, mungkin separuh waktu hidupku telah kulalui untuk berusaha menemukanmu. Engkau menyapaku agar aku berhenti sejenak dari terik dan dingin kusamnya keranda kematian jiwaku. Lalu aku mempercayaimu, kita berjalan….aku mencoba mempercayai bahwa dalam ruang waktu ini ada kesejatian cinta, ….aku menaruh harapan padamu. Pada kata-kata yang awal mulanya aku menyandarkan apa yang dinamakan kepercayaan….

Hari berganti, bulan berganti, tahun berganti…semua menjadi kabur. Dan kembali kata-kata itu berubah, waktu demi waktu. Ia bergelombang mengikuti irama labilnya perjalanan jiwamu.

Engkau berubah seiring dengan waktu, kau terus berlari mengejar  permata yang kau impikan, dengan menggadaikan dan mengoyak nafas kehidupanku.  Waktu telah menyeriangi, ia menunjukkan keperkasaannya…seolah meneriakkan inilah aku yang akan membolak-balikkan setiap keabadian dalam alam pikir pencarian hati manusia. Inilah aku, sang waktu , yang telah diberi otoritas untuk menunjukkan pada setiap jiwa yang mengikatkannya padaku.

Oh tidak, aku telah terjerumus oleh kata-kata yang kau ikatkan padaku. Sekali lagi, aku terpuruk oleh ketidakabadian. Jiwaku menolak keras, bagaimana aku percaya kata-kata yang begitu manis bergulir, hingga membuatku menempatkan jiwamu dalam ruang keabadian ? Hingga aku terus menyandarkan diri pada pengharapan yang semu, penantian tak berujung. ..?

Bagaimana engkau begitu telah mengikat jiwaku dengan manisnya kata-kata, sementara engkau sangat terikat dengan labilnya ruang dan waktu hidup ini.

Oh tidak tuan, engkau telah merobek jantung kepercayaanku padamu, engkau telah mengikis manisnya pengharapan bahwa di dunia ini masih ada sebongkah cinta yang akan memperjalankanku pada keabadian dan kesejatian.

Kesetiaan saja tak cukup untuk mengingatkanmu, pergilah jika engkau memang masih ingin menghendaki gemerlap dunia ini. Mungkin aku hanyalah persinggahan sejenak perjalanan petualanganmu. Tapi tidak bagiku, aku telah berdosa karena memberimu ruang keabadian dalam hatiku untukmu, dan kini aku menyadarinya…..

Sudahlah, aku tidak lagi mengijinkanmu menyeruak dan memporak porandakan perjalananku. Mungkin, kini aku lah kepingan tak berbentuk. Aku tak hendak memaksa jiwa dalam ketidakselarasan. Waktu telah memperingatkanku, akan ajal didepan yang menantang, akan fatamorgana yang menyilaukan mata. Aku menulis kata-kata, bukan untuk memintamu mempercayainya, tapi menajamkan mata batin tentang apa sesungguhnya yang ada dibalik kata-kata…

CERMIN

cermin

Cerminku retak

Sayapku patah….

Aku bersandar di ujung belantara tanpa batas

Di ujung pena aku bersimpuh

Mengurai makna yang terhempas begitu rupa oleh senyap sorak sorai keserakahan hidup

Cerminku retak

Wajahku seperti bongkahan batu berserak tak bergerak….hampa…

Cerminku retak….

Aku ikuti kata ‘Tuhan’, tapi selalu saja terbentur imajinasiku tentangNya

Aku ikuti pendekar yang membawa nama-nama Tuhan

Yang bersemayam dalam jubah gemerlap tuan-tuan eksistensi

Aku menurut apa kata punggawa

Aku ikuti pendekar kata-kata

Aku ikuti pendekar penterjemah makna

Aku ikuti romantisme rasionalitas yang membuatku terbang dalam lompatan nalar dan logika

Aku ikuti gelombang irama tabuhan sufi yang bertalu-talu dalam tangisan harap cemas surga Tuhan

Tapi…..sayapku patah

Cerminku retak berhamburan oleh segala pinta atas nama makna universalitas, moralitas dan kesantunan

Para punggawa telah mencabik-cabik nafasku

Para punggawa telah merampas jantung kehidupanku

Para punggawa telah merampas hijabku…..atas nama Tuhan yang Maha Welas

Cerminku retak….

Sayapku patah….

Aku bersimbah darah oleh luka yang menganga

Cerminku retak…..

Satu persatu kaca berjatuhan….cerminku semakin tak berbentuk dan tak beraturan

Aku pengelana makna tapi bukan punggawa yang bersenjata dan berjubah indah….

Aku pengembara semesta

Para punggawa telah mencabik cabik badanku….

Para pengaku  ‘pemandu jalan Tuhan’ telah memporak porandakan jiwaku…

Cerminku retak….

Kini sirna dalam kepingan tak berbentuk….

(Jombang, 6 April 2014, 18.00)

SAHABAT SEJATI

” Pertemuan jiwa tak akan mampu dielakkan karena cinta persahabatan telah memilihnya. Biarlah ia terus mengukir hari-hari di sepenggal perjalanan pencarian yang berharap akan sampai….Pertemuan yang meniscayakan tak ada lagi jarak diantara jiwa-jiwa pengelana akan mewujud dalam penyatuan yang tak akan pernah sirna oleh keterbatasan dimensi…

Aku mengukirnya, dan seiring dengan waktu jiwanya selalu ada bersamaku
Pada ketika kegerahan memilukan, mengurai perihnya perjalanan jiwa, kesendirian tak lagi sunyi, karena dalam kesunyian telah hidup jiwa2 yang selalu menemani. Tak ada lagi jarak memisahkan dalam persahabatan jiwa yang tulus, ia abadi bersama ketulusannya, ia hidup dalam kematiannya, dan akan terus hidup hingga dipersatukan oleh sebuah keranda abadi di penghujung puncak pengharapan….”
Jombang, 07/07/10

(Tulisan ini adalah ekspresi kecil ketika berbincang2 bersama kawan, mengenai makna sahabat di jejaring sosial facebook pada July 7, 2010 at 1:54am….kebetulan menemukannya kembali dan ingin mengenangnya di blog ini )

Sampaikanlah kebenaran dengan cara yang benar….