TENTANG KESOMBONGAN

Bahwa kesombongan itu seperti noktah hitam ditengah malam yang gelap gulita. Begitu samarnya ia bahkan ia mampu menjelma menjadi segala macam bentuk sesuai gradasi dan proses metamorfosa hati dan pikiran manusia.
 
Kesombongan membayang disetiap langkah, saat sebagian orang berusaha memperbaiki citra dirinya,
Saat sibuk memproteksi diri dari segala macam kritikan,
Saat berpikir dan menerima bisikan-bisikan hingga ia tak mampu mengidentifikasi siapa dirinya,
Saat tengah menyibukkan diri dengan kata-kata langit,
Saat merasa sibuk untuk berbuat dan mengatasnamakan perjuangan kelas,
Saat menjauhi hiruk pikuk dengan merenungi segala realitas hingga ia lenyap dalam kesunyian yang diciptakannya sendiri,
Saat menuangkan pikiran untuk membuat wacana-wacana dan menggiring opini sesuai bisikan yang kemudian ia ciptakan,
Saat bercanda, serius atau antara keduanya,
Saat kaya maupun miskin,
Saat sendiri ataupun bersama,
Bahkan saat memanjatkan doa dan mengatasnamakan diri sebagai peminta-minta dihadapan Tuhan.
 
Kesombongan itu lembut, seperti lembutnya realitas yang paling lembut didunia ini. Kesombongan itu kasar, sekasar dan semenggelegar teriakan petir di langit. Kesombongan itu berirama, seperti nyayian, tembang atau pun kidung yang mengalun disetiap lembah kehidupan.
 
Kesombongan itu bergerak, segesit gerakan hati dan pikiran, ia akan menyelimuti setiap entitas tanpa ada kata permisi dan tanpa membuat orang merasakan kehadirannya

.

SIAPA SAYA HARI INI ?

Dunia hanya selebar beberapa inchi di depan cermin, begitulah kata sahabat yang saya kasihi.  Akhirnya manusia hanya seperti gundukan B612_20170309_173550 bperistiwa, peristiwa yang terkadang bersinambung terkadang  nampak hanya berdiri mematung sendirian.  Manusia yang hanya bertegur sapa lewat cermin, tertawa sendirian dengan imaginasi melayang seolah sedang terjadi peristiwa yang membuat hati gembira, sedih atau bahkan merana dan frustasi. Padahal ia hanyalah sendirian dibalik  papan 3 x 4 meter yang menaunginya.  Seluruh peristiwa hanya terjadi lewat onggokan benda berukuran beberapa inchi saja. Semua bermuara pada kosong…..

Lalu siapakah kita dibalik semua itu ? Manusia, seonggok daging yang terpenjara dalam alam virtual ?

Oh tidak. Manusia tidak hanya hidup cukup dengan persepsi dan kata-kata bijak,  begitu kata karib saya yang saya hormati.  Manusia tidak cukup hanya terbelenggu  dan fanatik pada pilihan ‘isme-isme’ yang getol ditawarkan oleh dunia. Isme-isme itu hanyalah alam persepsi , tak lebih dari itu.  Manusia tak cukup hanya hidup dialam persepsi. Ujung akhirnya, segala bentuk isme adalah pilihan baik disadari atau pun tidak. Dan pilihan terbaik saat manusia mampu  menempatkannya pada situasi yang tepat, tarik ulur konteksnya…dan tentu dengan pilihan normative yang mendasarinya untuk tidak keluar dari prinsip-prinsip dasar berperikemanusiaan dan berkeTuhanan.

Ini mengingatkan pada ungkapan Napoleon,”Akalku seperti kota-kotak penjual parfum yang dapat kubuka tutup kapanpun dan   kotak mana yang sesuai keinginan dan keperluanku.”  Begitulah, hidup tidaklah stagnan, ia bergerak dan terus bergerak mengikuti sunatullah.  Brown pernah mengungkapkannya dalam prinsip bahwa partikel sejatinya terus menerus  bergerak tanpa henti. Atau juga prinsip kekekalan energi yang mengatakan  energi tidaklah bisa diciptakan atau dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk dari bentuk satu ke bentuk lainnya. “Bermetamorfosa”  kalau orang biologi bilang. Bagi yang kental dengan pemikiran filsafat timur mungkin akan merujuk pada argumentasi Mulla Sadra dalam gerak substansialnya. Tapi bukan itu soal hidup ini,….sekali lagi hidup bukan sekedar persepsi, bukan sekedar pengetahuan atau konsepsi yang mengendap-endap di pikiran.

Manusia dengan segala misterinya, ia berada dalam dimensi yang terkadang tampak bertolak belakang dan dalam dualitas yang tarik menarik. Tapi lagi-lagi untuk menjadi tegak, ia harus mampu memilih dan memilah untuk merumuskan siapa dirinya dan kemana ia akan melangkah. Lihatlah ke dalam apakah kita telah memiliki tekad kuat yang berimbang dengan kelenturan, menyatukan gairah dengan  kesabaran, kesederhanaan dalam kekayaan, syukur dalam kekurangan,  sabar dalam kesulitan, berbuat banyak tapi tetap rendah hati, sholat  khusyuk tapi tetap memiliki rasa takut yang kuat akan dosa2 yang mungkin menyelimuti , memiliki keluasan pengetahuan yang tinggi tapi berbicara melalui perbuatannya, harapan-harapan yang sederhana sehingga jauh dari angan-angan, rasa ber_kekurangan yang sedikit, ruhaniah yang merasa puas dalam kesyukuran.

Siapakah anda dan siapakah saya hari ini, kemarin dan esok ? Mari bergandeng tangan, tanggalkan saja perseteruan yang berpangkal dari terlalu memandang lebih memotret diri sendiri.  Berbuat jauh lebih baik daripada diam. Anda adalah bagian dari saya dalam persaudaraan ini.  Salam damai….

#berdamai_dengan_diri

MANUSIA DALAM REALITAS DAYA TARIK DAN DAYA TOLAK

B612_20170309_175432b
Jombang,  9 Maret 2017

Proporsi paling besar dalam sebuah hubungan, baik  persahabatan,  hubungan kasih sayang, permusuhan, bahkan  kebencian  pada dasarnya adalah bentuk manifestasi dari gaya tarik dan gaya tolak yang  terdapat dalam dimensi manusia.  Pilihan berikutnya adalah seberapa banyak jiwa akan memberikan porsi paling besar dalam menghadapi fluktuasi realitas kehidupannya.

Manusia dengan proporsi penolakan yang dominan, ia akan senantiasa menciptakan bentuk permusuhan, manusia dengan proporsi yang hanya memiliki dominansi daya tarik  saja tanpa penolakan, mereka hanya akan memiliki penggemar,  manusia dengan kepribadian yang tidak mampu membuat tarikan ataupun tolakan, ia tidak akan dapat menggugah simpati, menggerakkan cinta, kasih sayang, permusuhan, atau pun bahkan kebencian dari orang sekitarnya, tetapi manusia  dengan kekuatan karakter menarik dan menolak dalam proporsi yang seimbang ia akan melahirkan pengikut.

Imam Ali Zainal Abidin, dalam doanya meminta,”Jagalah hamba dari menganggap hina orang yang tidak memiliki sesuatu atau menganggap utama orang yang memiliki kekayaan. Karena orang yang mulia adalah orang yang dimuliakan ketaatannya kepadaMu dan orang yang agung adalah  orang yang diagungkan penghambaannya kepadaMu.”

Ketaatan dan penghambaan pada Allah menjadi dua kata kunci dalam membangun karakter kemuliaan akan kedudukan kemanusiaan. Ia akan melahirkan kekuatan tarikan dan tolakan yang darinya akan muncul para pengikut, bukan penggemar, bukan fans yang hanya akan sekedar mengelukan.  Ketaatan dan penghambaan  menjadi sumber inspirasi kecerdasan manusia untuk melejitkan akal murninya sampai pada titik menggerakkan setiap manusia. Ketaatan dan penghambaan bukanlah realitas purba yang hanya sekedar “mengikut” tanpa kesadaran tentang pengetahuan akan diri. Ia hanya dilakukan oleh orang-orang yang telah selesai dengan dirinya, orang-orang yang mampu mengimplementasikan  dimensi ruhaniah  dalam gerakan tubuh visualnya, saat dimana Tuhan “menjelma” dalam setiap perilaku kemanusiaan”. Wallahu’alam

RAHASIA PEREMPUAN

IMG_20170331_194351
Jombang, 26 Februari 2017
Perempuan adalah rahasia. Ia adalah gambaran dari bumi atas langit yang menjulang, langit yang menumpahruahkan segala beban ketinggiannya dan menimpakannya pada bumi yang dalam realitas alam sebagai entitas yang diinjak, dan penerima segala luapan derita langit atas beban yang diembannya. Inilah kekuatan bumi. Kesanggupannya menjadi rendah agar langit tetap menjulang, derita atas penimpaan beban langit demi menjaga semesta dari ketimpangan dan dis_harmonisasi kosmos (ketersusunan) yang telah Allah atur sedemikian rupa. Sekali lagi inilah rahasia perempuan.

Rumi dalam ungkapan indahnya mengatakan “ Dalam pandangan akal, langit adalah pria dan bumi adalah wanita. Apapun yang telah dijatuhkan oleh langit, maka bumi akan memeliharanya.” Dalam ungkapan mistis filosofisnya, seorang Ibnu Arabi mengatakan,”Allah menciptakan pria dan wanita dalam satu lokus yang disebut manusia, sehingga dalam perjalanan ruhaniahnya, kerinduan pria atas wanita adalah tarikan ruhaniah dalam penyempurnaan atas dirinya.”

Inilah rahasia perempuan. Ia berada dalam mihrab ruhaniah, terejawantahkan dalam jilbab anggun yang menyelimutinya hingga ia akan tetap menjadi sebuah misteri di semesta ini. Sebuah rahasia yang tidak akan pernah habis untuk dikaji, layaknya keagungan perempuan-perempuan mulia Sayyidah Khadijah al kubra, Sayyidah Fathimah binti Muhammad, Sayyidah Maryam yang dihembuskan padanya ruhul kudus dan Sayyidah Asiyah isteri Fir’aun dengan rahasia kesabaran tiada tara.

Inilah rahasia perempuan. Ia adalah sebuah perpaduan alam yang memiliki gaya tarik dan gaya tolak sekaligus dalam dirinya. Ia memiliki kaidah yang mampu mengharmonisasikan nalar logis dan afektif, rasional dan intuisi, menjadi eleksir cinta yang akan menggugat setiap ketimpangan dan disharmoni di alam semesta ini.

Lebih jauh di “ruang rahasia perempuan”, Fathimah binti Muhammad pernah ditanya oleh Rasulullah tentang apa hal terbaik bagi perempuan, lalu beliau menjawab,”Yaitu ketika ia tidak melihat lelaki lain dan tidak dilihat oleh lelaki lain.” Itulah mihrab, hijab, singgasana, dan kerajaan perempuan.
Boleh jadi seorang perempuan adalah seorang ratu atau pemimpin di sebuah masyarakat, tapi dalam kaidah ruhaniah, ia tetap berada dalam mihrabnya, boleh jadi ia adalah seorang pakar dalam berbagai bidang ilmu dan bergaul dengan berbagai khalayak, tetapi ia tetap ada dalam mihrab keterjagaannya. Perempuan adalah rahasia, meski ia tampak tapi ia adalah realitas yang tersembunyi. Kenalilah perempuan dari jiwa perempuan itu sendiri….

#story_sabdasunyi,   Jombang, 26 Februari 2017

HAMBA ADALAH HAMBA

Tidak dipungkiri bahwa penyelaman terhadap hakikat sifat Allah baik apa, dan bagaimananya merupakan perihal yang tak dapat dijangkau oleh tangan-tangan pembuktian yang pendek, dan “mustahil” sampai pada puncaknya. Bahkan harapan para ‘arifin pun “tak pernah” sampai pada jantung kebenaran itu sendiri. Sementara pada sisi yang lain segala pembuktian yang rumit yang disodorkan oleh para ulama hikmah, para filosof atau berbagai studi ahli ‘irfan tentang nama dan sifat Allah hanya benar dalam lingkaran diskursus dan metode semata.Akan tetapi ilmu tentang ilmu masih tertutup oleh hijab yang tebal, kecuali seorang hamba yang selalu berusaha membongkar segala hijab tebal itu melalui wujud dan tindak ketaqwaan sebagai seorang hamba, dan Allah memberikan cahayaNya . Ini bukan sebagai sebuah sistem kemitraan atau simbiosis mutualisme dalam konteks hak dan kewajiban, bahwa saat seorang hamba telah berdoa dan berusaha, maka Allah menjadi “wajib” memenuhinya.

Adalah Allah yang memiliki segala kemutlakan untuk memenuhi atau tidak memenuhinya sesuai kelayakan hamba menurut pandanganNya. Pengetahuan saja tidak cukup untuk menjadi bekal seorang hamba menuju pada cahaya-Nya. Bahkan amalan baik saja tidak cukup untuk sampai kepada-Nya.

Imam Shadiq mengatakan, bahwa dalam menetapkan sifat yang benar bagi Allah adalah berada dalam lingkaran keharusan untuk tidak keluar dari apa yang telah ditetapkan Al Qur’an. Jika seseorang ingin menyifati Allah dengan sifat-sifat yang dia peroleh dari inspirasi akalnya yang terbatas dan dilumuri berbagai anggapan tanpa petunjuk makrifat dan petunjuk Allah, dapat dipastikan ia akan terjerumus ke dalam ‘penghapusan sifat-sifat Allah (kesesatan ta’thil) dan terjebak ke dalam penyerupaan Allah dengan makhlukNya (kesesatan tasybiyah)

Imam Abu Ja’far mengatakan yang redaksinya kurang lebih ,”Sesungguhnya Allah tidak bisa disifati. Bagaimana mungkin Dia bisa disifati sedang dalam Kitab-Nya Dia berkata,” Dan mereka tidak menilai Allah dengan sebenar-benarnya penilaian. Dia tidak dapat disifati dengan qadar, karena pasti lebih besar dari itu, dan bahwasanya Rasulullah pun “tidak dapat disifati” . Sebab bagaimana mungkin bisa disifati seorang hamba (yang dirinya) dihijabi oleh Allah dengan tujuh hijab dan yang ketaatannya di dunia dijadikan-Nya ketaatan kepada-Nya di langit. Apa-apa yang disampaikannya kepadamu maka taatilah. Hal tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah pada dasarnya tidaklah bisa disifati. Segala bentuk upaya pensifatan terhadap manusia paripurna pun hanyalah sebuah diskursus pada alam pikir manusia yang memiiki ribuan hijab. Apalagi kepada Sang Pencipta.

Penekanan dalam poin ini bukanlah untuk menafikan bahwa diskursus itu tidak perlu, tetapi hanya menyampaikan bahwa manusia adalah hamba dari Sang Pencipta dalam pengertian sejatinya hamba sahaya, tanpa atribut apapun. Seperti dalam cuplikan doa yang diajarkan Sayyidina Ali, “ Maha Suci Tuhan pemilik segala kemuliaan, dari segala sifat yang mereka sifatkan untuk-Nya, salam sejahtera untuk para Rasul dan segala puji bagi Allah pemiik Semesta Alam.”

Maka benarlah adanya, bahwa segala bentuk ilmu yang ada pada manusia hanyalah mukadimah untuk sebuah perjalanan ruhaniah yang panjang dan tidak mudah.

Wallahu’alam

Tunduk

Yang lebih sulit dari memahami pengetahuan makrifat adalah berdiri dg sikap lurus (istiqomah) dihadapan Allah dg rasa malu dan sebenar-benarnya malu ketika menyadari bahwa dirinya tidak mampu melaksanakan apa yg menjadi perintahNya dan menjauh dr apa yg dilarangNya. Yang lebih tinggi dari pengetahuan tentang kepasrahan adalah saat kita bersujud dengan mengarahkan seluruh mata batin bersamaan dg raga yg sujud dengan mengingat maqam kehinaan, kelemaham, ketakberdayaan, melihat dirinya berada ditempat kehadiran kudus Sang Maha Raja yang semua partikel dan atom serta segala yang maujud tunduk pada kekuasaan, keperkasaan dan ketetapanNya. Yang lebih sulit dari mengingat tentang bagaimana pemahaman kita akan konsep kehadiranNya disetiap sesuatu adalah saat membuang segala ingatan tentang selainNya kecuali hanya mengingat kemandirian Dzat Sucinya, dan bahwa kemandirianNyalah, maka seluruh fenomena alam ini ada, meliputi segala jagad realitas dan bergantung hanya kepadaNya. Yang sulit dari memahami pengetahuan tentang rahasia makrifat kepadaNya adalah mengingatNya dalam setiap berdiri, duduk dan berbaring dalam NamaNya 

Sampaikanlah kebenaran dengan cara yang benar….