CERMIN

cermin

Cerminku retak

Sayapku patah….

Aku bersandar di ujung belantara tanpa batas

Di ujung pena aku bersimpuh

Mengurai makna yang terhempas begitu rupa oleh senyap sorak sorai keserakahan hidup

Cerminku retak

Wajahku seperti bongkahan batu berserak tak bergerak….hampa…

Cerminku retak….

Aku ikuti kata ‘Tuhan’, tapi selalu saja terbentur imajinasiku tentangNya

Aku ikuti pendekar yang membawa nama-nama Tuhan

Yang bersemayam dalam jubah gemerlap tuan-tuan eksistensi

Aku menurut apa kata punggawa

Karena ia bagian dekat Tuhan

Aku ikuti pendekar kata-kata

Aku ikuti pendekar penterjemah makna

Aku ikuti romantisme rasionalitas yang membuatku terbang dalam lompatan nalar dan logika

Aku ikuti gelombang irama tabuhan sufi yang bertalu-talu dalam tangisan harap cemas surga Tuhan

Tapi…..sayapku patah

Cerminku retak berhamburan oleh segala pinta atas nama makna universalitas, moralitas dan kesantunan

Para punggawa telah mencabik-cabik nafasku

Para punggawa telah merampas jantung kehidupanku

Para punggawa telah merampas hijabku…..atas nama Tuhan yang Maha Welas

Cerminku retak….

Sayapku patah….

Aku bersimbah darah oleh luka yang menganga

Cerminku retak…..

Satu persatu kaca berjatuhan….cerminku semakin tak berbentuk dan tak beraturan

Aku pengelana makna tapi bukan punggawa yang bersenjata dan berjubah indah….

Aku pengembara semesta

Para punggawa telah mencabik cabik badanku….

Para ‘pemandu jalan Tuhan’ telah memporak porandakan jiwaku…

Cerminku retak….

Kini sirna dalam kepingan tak berbentuk….

(Jombang, 6 April 2014, 18.00)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s