BAGAIMANA AKU PERCAYA KATA-KATA, SEDANG ENGKAU TERIKAT DALAM RUANG WAKTU YANG LABIL

anakBagiku, hati adalah keabadian, ia adalah pencari sekaligus penemu kesejatian. Aku berjalan, terus berjalan, mungkin separuh waktu hidupku telah kulalui untuk berusaha menemukanmu. Engkau menyapaku agar aku berhenti sejenak dari terik dan dingin kusamnya keranda kematian jiwaku. Lalu aku mempercayaimu, kita berjalan….aku mencoba mempercayai bahwa dalam ruang waktu ini ada kesejatian cinta, ….aku menaruh harapan padamu. Pada kata-kata yang awal mulanya aku menyandarkan apa yang dinamakan kepercayaan….

Hari berganti, bulan berganti, tahun berganti…semua menjadi kabur. Dan kembali kata-kata itu berubah, waktu demi waktu. Ia bergelombang mengikuti irama labilnya perjalanan jiwamu.

Engkau berubah seiring dengan waktu, kau terus berlari mengejar  permata yang kau impikan, dengan menggadaikan dan mengoyak nafas kehidupanku.  Waktu telah menyeriangi, ia menunjukkan keperkasaannya…seolah meneriakkan inilah aku yang akan membolak-balikkan setiap keabadian dalam alam pikir pencarian hati manusia. Inilah aku, sang waktu , yang telah diberi otoritas untuk menunjukkan pada setiap jiwa yang mengikatkannya padaku.

Oh tidak, aku telah terjerumus oleh kata-kata yang kau ikatkan padaku. Sekali lagi, aku terpuruk oleh ketidakabadian. Jiwaku menolak keras, bagaimana aku percaya kata-kata yang begitu manis bergulir, hingga membuatku menempatkan jiwamu dalam ruang keabadian ? Hingga aku terus menyandarkan diri pada pengharapan yang semu, penantian tak berujung. ..?

Bagaimana engkau begitu telah mengikat jiwaku dengan manisnya kata-kata, sementara engkau sangat terikat dengan labilnya ruang dan waktu hidup ini.

Oh tidak tuan, engkau telah merobek jantung kepercayaanku padamu, engkau telah mengikis manisnya pengharapan bahwa di dunia ini masih ada sebongkah cinta yang akan memperjalankanku pada keabadian dan kesejatian.

Kesetiaan saja tak cukup untuk mengingatkanmu, pergilah jika engkau memang masih ingin menghendaki gemerlap dunia ini. Mungkin aku hanyalah persinggahan sejenak perjalanan petualanganmu. Tapi tidak bagiku, aku telah berdosa karena memberimu ruang keabadian dalam hatiku untukmu, dan kini aku menyadarinya…..

Sudahlah, aku tidak lagi mengijinkanmu menyeruak dan memporak porandakan perjalananku. Mungkin, kini aku lah kepingan tak berbentuk. Aku tak hendak memaksa jiwa dalam ketidakselarasan. Waktu telah memperingatkanku, akan ajal didepan yang menantang, akan fatamorgana yang menyilaukan mata. Aku menulis kata-kata, bukan untuk memintamu mempercayainya, tapi menajamkan mata batin tentang apa sesungguhnya yang ada dibalik kata-kata…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s