TENTANG REZEKI

mencari rezekiSegala puji bagi Allah azza wajalla, shalawat dan salam atas Rasulullah dan ahlul baitnya yang suci. Saat saya menulis tentang ini, sebenarnya saya tidak memiliki kapasitas untuk membicarakan pembahasan ini, akan tetapi saya sedang mencoba belajar memahami dengan segala kekerdilan pemikiran saya berkaitan tentang bagaimana Ahlul Bait mengajarkan bagaimana seharusnya seorang hamba memahami rejeki yang Allah limpahkan kepada manusia. Semoga Allah mengampuni saya jika terjadi kesalahan dalam memahaminya.

Salah satu tanda benarnya keyakinan seorang Muslim adalah bahwa dia tidak mau memperoleh  ridha manusia  dengan memperoleh kebencian dari Allah, dan tidak mencaci mereka atas apa yang tidak diberikan Allah kepadanya. Sebab rezeki itu tidak dapat digiring oleh ambisi orang yang berambisi (terhadapnya) dan tidak pula dapat dicegah oleh ketidaksukaan orang yang tidak suka. Kalau sekiranya  salah seorang diantara kalian lari dari rezekinya sebagaimana dia lari dari kematian, niscaya rezeki tersebut tetap akan menemukannya, sebagaimana halnya dengan kematian yang menemuinya. Sesunguhnya Allah dengan keadilan dan kebencianNya, menjadikan ketentraman dan kesenangan (terletak) dalam keyakinan dan keridhaan, dan menjadikan kegelisahan dan kesedihan (terletak) dalam keraguan dan kebencian (Imam Hussein as)

 Seseorang yang ingin mencari perkenan manusia dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dapat menguasai hati dan pikiran mereka, sesungguhnya dia melakukan semua itu karena keyakinan bahwa orang-orang tersebut memegang peranan penting dan menentukan bagi kelancaran rezekinya. Ada kalanya tanpa disadari, hati dan pikiran kita telah terselimut oleh sebuah ambisi yang halus dan mperlahan-lahan mengarahkan kita pada arah yang menjauh dari keyakinan kita akan nilai-nilai tauhid. Orang yang memiliki keyakinan yang benar akan merasa berkewajiban untuk berupaya mencari rezeki pada setiap kesempatan. Bahkan akan dilakukannya secara rasional dan syar’i. Secara sadar orang yang memiliki keyakinan penuh, tidak akan berusaha untuk menutup pintu rezeki melalui jalan apapun, seraya meyakini bahwa segala sesuatu itu bersumber dari Sang Maha Mutlak.  Pencari, mencari dan yang dicari semua berasal dari sumber yang satu yaitu Allah SWT.

Dalam telaah hadist oleh Imam Khomeini mengenai ucapan Imam Abu Abdillah as yang berbunyi “Dan hendaklah dia tidak mencaci maki mereka atas apa yang tidak diberikan Allah kepadanya”, beliau mengatakan :

Pertama,  hendaknya seseorang tidak mengumpat atau mencaci maki karena tidak diberikannya harta (materi) yang dia tidak memilikinya, tetapi orang lain memilikinya. Sebab seseorang yang memiliki keyakinan pasti menyadari bahwa harta atau  materi yang tidak dianugerahkan padanya tentu tidak akan memberikan maslahat baginya, atau tidak menjadikan kebaikan apabila diberikan melalui tangan orang lain. Tetapi Allah akan memberikan kepadanya melalui jalan yang tidak terduga-duga.

Kedua, hendaknya seseorang tidak mencela siapapun atas apa yang tidak dianugerahkan padanya. Hal ini sejalan dengan ucapan Imam Husein as berkenaan dengan penciptaan, “Kalau sekiranya seseorang itu tahu bagaimana Allah menjadikan makhluk ini, niscaya dia tidak akan mencela siapapun.”

Allah menempatkan ketenangan dan kesenangan pada keyakinan dan Ridha, dan menempatkan kegelisahan dan kesedihan pada keraguan dan kebencian berdasarkan Prinsip Keadilan.

Seseorang yang beriman kepada Allah dan ketentuanNya dengan keimanan yang betul-betul yakin, dan bersandar pada Sandaran Yang Maha Kuat dalam bentuknya yang mutlak. Maka di tengah kesulitan hidupnya, bahkan pada saat puncak kesulitan, ia akan menganggapnya ringan. Seseorang yang memiliki keyakinan penuh akan memiliki cara pandang yang berbeda dan cara hidup yang berbeda dalam mensikapi segala persoalan hidupnya. Bagi orang-orang yang menyandarkan diri pada sarana-sarana lahiriah/material dalam mencari rezeki selamanya berada dalam kegelisahan dan ketidaktenangan. Seseorang dengan karakter demikian akan menganggap sangat serius kesuliyannya, sebab mereka tidak memiliki alternative pemecahan lain berkaitan dengan kemasalahatan Ilahi yang tersembunyi dan hanya mampu ditangkap oleh orang yang memiliki keyakinan penuh. Dengan kata lain orang-orang yang menyandarkan kebahagiaannya pada keberhasilan hidup duniawi, akan berhadapan dengan penderitaan dan kelelahan batin dalam kehidupannya.

Alhamdulillah, wal awwalu wal akhiru…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s