Menafsirkan Tuhan dalam Perangkap Pikir Manusia

 

menulis

 

( Tulisan ini adalah sebuah coment saya di facebook dalam sebuah obrolan ringan )

 

Setiap pensifatan Tuhan yang berasal dari inspirasi akal adalah definisi akal tentang-Nya. Begitu seterusnya dan seterusnya sehingga manusia akan terbentur dalam lingkaran aktifitas akal yang berupa pemikiran tentang upaya memahami wujud tak terbatas dengan batasannya yang ada pada dirinya sendiri. Bagaimana mengenali Tuhan sementara manusia seringkali memperlakukan Tuhan sebagai pelayan untuk tujuan memenuhi kepentingannya, merumuskan wujudNya dalam gambaran empiris layaknya lukisan oleh pelukisnya, memahami esensinya dengan logika yang bersumber dari nalar yang masih terus bertanya. Ini seperti sebuah lingkaran tak berujung.

Tuhan bukanlah sebuah kosmos (ketersusunan). Kata “Ahad” bukan sebagai tunggal dalam pengertian bilangan semata. Setiap pertanyaan “dalam apa Dia berada “, berarti manusia telah memperangkapNya dalam sebuah tempat. Dia maujud tetapi tidak melalui fenomena kemunculan dari sesuatu yang tiada menjadi ada. Dia meliputi segala sesuatu, bersama dalam segala sesuatu tetapi tidak terjamah oleh inderawi dan tidak dalam konotasi keterpisahan dan kebersamaan fisikal. Dia berbuat tanpa konotasi gerakan.

Jika seorang Mulla Sadra dalam konsepnya tentang gerak substansial dan pemahamannya tentang gradasi menyatakan, setiap hamba sejatinya bergerak terus menerus menuju kembali kepadaNya, sebab seluruh penciptaanNya adalah hembusan dari RuhNya sehingga ada masa saat ia akan kembali pada penciptanya. Maka sebuah keniscayaan pula jika berbicara tentangNya adalah berbicara perihal yang Awal dan Yang Akhir dari suatu perjalanan.

Pun demikian ketika seorang Ibnu Arabi menyatakan bahwa sejatinya Penciptaan Semesta ini adalah berawal dari cinta. Setiap kali Tuhan menciptakan sesuatu yang bersifat sementara, Dia menciptakannya secara berpasangan, sebagai dua hal yang terkait ataupun berlawanan. Pasangan yang paling sering disebutkan adalah langit dan bumi.

Ketika diturunkan pada konteks kemanusiaan langit digambarkan sebagai pria, sedangkan bumi digambarkan sebagai wanita. Sifat langit adalah pemberi limpahan pada bumi, dan bumi adalah simbol penerima limpahan itu. Ibnu Arabi menyebutnya bahwa pria dan wanita memiliki lokus yang sama, yaitu manusia. Artinya, bisa pula digambarkan bahwa ketiadaan salah satu pihak adalah sebuah ketidaksempurnaan. Dalam konteks perjalanan spiritual, Ibnu Arabi menyatakan bahwa perempuan digambarkan sebagai pengejawantahan sifat Jamaliyah, sedangkan pria digambarkan sebagai sifat JalaliyahNya. Dan keduanya bersumber dari yang sama, yaitu Ketunggalan MaujudNya.

Ada sebuah ungkapan yang menarik pula dari Ibnu Arabi menurut saya mengenai pendapatnya, “Kerinduan seorang pria terhadap wanita adalah seperti layaknya kerinduan keseluruhan terhadap bagiannya”. Dan sejatinya ini adalah sebuah perjalanan ruhaniah menuju Tuhannya. Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s