HANYA ORANG MISKIN YANG TAHU BENAR APA ARTINYA “LAPAR”

Kalimat itu muncul begitu saja dari seorang miskin papa, …. datar, tanpa ekspresi keinginan untuk mengukuhkan kebenaran atas pernyataannya. Begitulah ucapan itu seolah mengalir tanpa sedikitpun analisis atau referensi2 keagamaan menyertainya.

Lapar secara fisiologis bukanlah perkara yang aneh karena sudah menjadi hukum alam yang sangat biasa terjadi pada setiap makhluk bernyawa. Lapar is lapar, dalam pembahasan ilmu alam, ia hanyalah sebuah refleksi fisiologis yang menunjukkan kurangnya asupan makanan tertentu ke dalam tubuh. Itu bisa terjadi pada setiap makhluk bernyawa di bumi ini. Fakta itu riil tak perlu argumentasi apapun.

Tetapi kata-kata itu akan berbeda jika diucapkan oleh seorang yang lapar karena miskin, dan tidak ada kesanggupan untuk memberi jaminan pada dirinya sendiri bahwa nanti atau esok hari ia bisa menjawab panggilan alam itu dengan melihat fakta tentang ketidakpastian hidupnya ?

Bisa saja kita berusaha menggugurkan pernyataan tersebut dengan argumentasi, bahwa kita diajarkan untuk berpuasa agar bisa berempati, menahan haus dan lapar, menahan setiap gejolak ambisius nafsu dalam wujud apapun, sehingga menjadi pembenaran untuk menolak pernyataan bahwa hanya orang miskin yang sanggup mengerti apa artinya lapar.”

Bagi seorang yang memiliki kecukupan secara materiil, menahan lapar dengan cara berpuasa bukanlah perkara sulit. Secara psikologis, ia mengerti bahwa ia akan berbuka , menikmati indahnya kebersamaan didalamnya tanpa beban apapun dibenaknya. Tetapi tidak bagi seorang yang tidak memiliki kecukupan materiil, ia bahkan tidak punya kesanggupan menjamin dirinya sendiri bisa memenuhinya kembali atau tidak di keesokan harinya. Terdapat keresahan yang menggelayut dipundaknya, sebuah pertanyaan yang bisa dipastikan itu tidak ada bagi orang-orang yang memiliki kecukupan secara materi.

Laparnya orang miskin, adalah kompleksitas persoalan. Maka benarlah kiranya, ketika Imam Hasan bin Ali ditanya tentang apa arti kedermawanan beliau menjawab , “Bahwa kedermawanan adalah memberi sesuatu bahkan sebelum orang meminta ataupun mengucapkan tentang apa yang dibutuhkannya.”

# Tidak perlu bersusah payah untuk menjadi sosialis, agar bisa berbagi. Perlakukan saja orang lain dengan baik seperti kita ingin mendapatkan perlakuan yang baik pula dari siapapun

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s