Arsip Kategori: Kisah Hikmah

SAHABAT SEJATI

” Pertemuan jiwa tak akan mampu dielakkan karena cinta persahabatan telah memilihnya. Biarlah ia terus mengukir hari-hari di sepenggal perjalanan pencarian yang berharap akan sampai….Pertemuan yang meniscayakan tak ada lagi jarak diantara jiwa-jiwa pengelana akan mewujud dalam penyatuan yang tak akan pernah sirna oleh keterbatasan dimensi…

Aku mengukirnya, dan seiring dengan waktu jiwanya selalu ada bersamaku
Pada ketika kegerahan memilukan, mengurai perihnya perjalanan jiwa, kesendirian tak lagi sunyi, karena dalam kesunyian telah hidup jiwa2 yang selalu menemani. Tak ada lagi jarak memisahkan dalam persahabatan jiwa yang tulus, ia abadi bersama ketulusannya, ia hidup dalam kematiannya, dan akan terus hidup hingga dipersatukan oleh sebuah keranda abadi di penghujung puncak pengharapan….”
Jombang, 07/07/10

(Tulisan ini adalah ekspresi kecil ketika berbincang2 bersama kawan, mengenai makna sahabat di jejaring sosial facebook pada July 7, 2010 at 1:54am….kebetulan menemukannya kembali dan ingin mengenangnya di blog ini )

Sedekah Ali

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih awal menjelang ashar. Isteri beliau, Fatimah binti Muhammad menyambut kedatangan suaminya yang seharian mencari rezeki dengan sukacita. Menerka-nerka seberapa banyak rezeki yang dibawa Ali, mengingat keperluan di rumah yang semakin besar. Namun harapan Fatimah tak tertuai, Ali berkat, “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun”.

Tidak ada gurat kecewa dari puteri Rasulullah itu, sebaliknya ia menyambut suaminya dengan senyum terindah. “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala” sebuah jawaban yang sejuk terasa hingga ke dalam dada Ali. “Terima kasih,” jawab Ali lembut. Ali tertunduk seraya bersyukur memiliki isteri yang tawakkal, meski keperluan dapur sudah habis sama sekali. Tak sedikit pun Fatimah menunjukan sikap kecewa atau sedih.

Tak berapa lama, Ali berangkat ke masjid untuk sholat berjamaah. Sepulang dari masjid, seorang tua menghentikan langkahnya, “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali putera Abu Thalib?” Ali menjawab dengan heran. “Ya betul. Ada apa, Tuan?”. Kemudian orang tua itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya seraya berkata, “Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.” Dengan gembira Ali menerima haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Pulang dari masjid dengan membawa sejumlah uang, tentu saja membuat Fatimah tersenyum gembira. Ia meminta suaminya segera membelanjakan kebutuhan sehari-hari di pasar. Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau meminjamkan hartanya karena Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.” Tanpa berpkir panjang, Ali memberikan seluruh uang miliknya kepada orang itu. Ia pun kembali ke rumah sebelum sempat membeli satu barang pun di pasar.

Ali kembali dengan tangan hampa, membuat Fatimah Zahra heran. Kepada isterinya, Ali menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya, lagi-lagi Fatimah, wanita yang dijanjikan Rasulullah pertama kali masuk surga itu pun tersenyum, “Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita meminjam harta karena Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan yang akan menutup pintu surga untuk kita”.

Dalam kisah lain, dengan susah payah seorang pengemis datang memasuki Masjid Nabawi di Madinah untuk meminta sesuatu. Sayang, ia hanya melihat orang-orang melaksanakan shalat dengan khusyuk. Rasa lapar yang kuat mendorongnya untuk meminta-minta kepada orang-orang yang sedang shalat. Namun tak satupun menghiraukan dan tetap khusyuk dalam shalatnya.

Diambang keputusasaannya, pengemis itu mencoba menghampiri seseorang yang khusyuk melakukan rukuk. Kepadanya ia minta belas kasihan. Ternyata kali ini ia berhasil. Masih dalam keadaan rukuk, orang itu memberikan cincin besinya kepada pengemis itu. Tidak lama setelah itu, Rasulullah memasuki masjid, melihat pengemis itu lalu mendekatinya.

“Adakah orang yang telah memberimu sedekah?”

“Ya, alhamdulillah.”

“Siapa dia?”

“Orang yang sedang berdiri itu,” kata si pengemis sambil menunjuk dengan jari tangannya.”

“Dalam keadaan apa ia memberimu sedekah?”

“Sedang rukuk!”

“Ia adalah Ali bin Abi Thalib,” kata Nabi.

Ia lalu mengumandangkan takbir dan membacakan ayat, “Dan barang siapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama Allah) itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah: 56).

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa kisah tersebut di atas adalah faktor yang menjadi sebab turunnya ayat sebelumnya, yaitu “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Al-Maidah: 55). Asbabun-nuzul ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Shofyan Ats-Tsauri.

Rasulullah memberikan penghargaan tinggi kepada Ali bin Abi Thalib karena tindakannya yang terpuji. Bahkan Allah SWT menjadikan tindakannya itu sebagai sebab turunnya suatu ayat. Ali bin Abi Thalin telah mengajarkan kepada kita tentang makna kesalihan. Bahwa kesalihan bukan hanya soal hubungan antara ia dan Tuhannya, melainkan juga ia dan lingkungan sekitarnya. Ibadah ritual yang berdimensi vertikal tidak cukup untuk meraih predikat salih, mesti diwujudkan secara nyata dengan saling berkasih sayang terhadap sesama makhluk Allah di muka bumi.

Semestinya, kesalihan sosial menjadi bentuk nyata dari kesalihan ritual seseorang. Semakin khusyuk ia beribadah kepada Allah, semakin dekat ia dengan orang-orang miskin, anak yatim dan kaum dhuafa lainnya. Semakin rajin ia menegakkan shalat, semakin rutin pula ia bersedekah menyantuni kaum fakir.

Bagaimana mungkin orang bisa khusyuk beribadah sementara tetangganya merintih kelaparan? bagaimana bisa seseorang rajin mengunjungi Mekah dan Madinah untuk berhaji sedangkan anak-anak yatim di sekitarnya terlantar? Ketika para jamaah berhamburan keluar usai melakukan shalat berjamaah, namun di pelataran masjid ratusan tangan pengemis terjulur meminta sedekah. Sungguh sebuah pemandangan yang memaksa kita bertanya, “sudah cukupkah kesalihan kita? ” Wallaahu a’lam.

TENTANG LELAKI YANG BERPUASA DAN KEDUA PUTRINYA

Seorang lelaki tua datang kepada Rasulullah saw meminta izin berbuka bagi dirinya dan kedua putrinya yang tidak bisa datang kepada Rasulullah untuk meminta izin. Rasulullah memberikan izin berbuka kepada orang tua itu dan berkata,” Kedua putrimu tidak berpuasa. Oleh sebab itu keduanya tidak memerlukan izin berbuka.” Ayah itu terkejut dan berkata,” Wahai Rasulullah, aku tinggalkan keduanya dalam keadaan berpuasa.” Maka Rasulullah menyuruhnya kembali ke rumahnya dan meminta keduanya untuk memuntahkan makanan dalam perutnya. Orang tua itu kembali ke rumahnya dan meminta kedua putrinya memuntahkan makanan dalam perutnya. Sewaktu keduanya muntah, dua potong daging jatuh bersama muntahnya.

Ayah mereka terheran-heran dan kembali kepada Rasulullah untuk memberitahukan masalah itu dan berkata kepadanya,” Kedua putriku tidak makan daging tadi malam.” Rasulullah saw memberitahukannya bahwa keduanya biasa menggunjing. Meskipun keduanya berpuasa secara lahiriah, namun puasanya rusak. Dengan menggunjing, dan mereka telah memakan bangkai daging manusia.