Arsip Kategori: Oase

DOA AMBISIUS

”Kuhadapkan wajahku kepada (Tuhan) yang telah menciptakan langit dan bumi,….” teks firman Nya dalam Qur’an terkasih.

Berdoa dengan lisan dan menggunakan redaksi kalimat para wali dan para imam terpilih adalah berkah tersendiri.  Barangkali bagi kita manusia  awam, yang memiliki derajat jauh di level bawah dari manusia-manusia terpilih pada setiap zamannya, hanya bisa mewarisi kalimat-kalimat indah dalam doa dan munajat, sebagai rujukan dan upaya untuk mewakilkan setiap perkara batiniah yang kita alami untuk membangun koneksitas dengan Pemilik Semesta Tak Terbatas.

Doa membangun hubungan penghambaan terhadap Realitas Tertinggi, Allah SWT.  Dibutuhkan sebuah kehadiran hati untuk melafadzkannya. Doa meniscayakan penafikan terhadap seluruh realitas materiil yang melingkupi diri, menanggalkan seluruh hasrat sekecil apapun, dan penyerahan diri sepenuhnya pada kebijakan Pemilik Semesta. Di ruang itu tidak ada selain hamba dan Aku tertinggi.

Setiap manusia memiliki perjalanan, permenungan dan konsepsi yang lahir dari setiap  perjalanan hidup yang ditempuhnya. Ada sebuah kondisi dimana manusia sangat menginginkan dan begitu berhasrat untuk sampai pada tujuannya. Salah satu upaya untuk sampai pada apa yang dituju selain usaha  adalah doa, sebagai sebuah kepercayaan penuh, bahwa ada realitas di luar alam material ini yang memiliki otoritas terhadap terpenuhinya hajat hidup setiap penghuni bumi.

Keinginan besar seorang hamba untuk sampai pada apa yang dituju, membuat sedemikian rupa manusia berusaha semaksimal mungkin melakukan ikhtiar religius dengan membaca serentetan doa2 yang merujuk kepada para wali Allah.  Pemahaman dalam konsepsi rasionalnya bahwa teks-teks doa dari manusia2 terpilih memiliki lintas dan percepatan yang lebih utama dibandingkan teks teks doa dari manusia biasa. Hingga akhirnya, kita menjadi pembaca ulung teks teks doa tersebut dengan durasi yang cukup panjang, berkompetisi dengan waktu-waktu ijabah dengan rangkaian teks-teks doa dengan makna yang mengharu biru, dan memporak porandakan batin setiap kalbu yang hadir didalamnya.

Yang menjadi persoalan penting adalah, dalam pemahaman logis tentang indahnya untaian doa, pemahaman waktu2 penting dalam memanjatkan doa, kepiawaian kita dalam membaca dan melantunkan kesyahduan munajat, indera kita akan menjadi fokus pada teks-teks bacaan itu, sehingga terkadang lupa akan kehadiran kalbu pada saat membacanya.  Benarkah kita telah benar-benar menghadapkan diri pada pemilik semesta ataukah kita hanya sedang bersenandung dalam kalimat-kalimat indah munajat ?

Besarnya hasrat akan terkabulnya hajat, terkadang membuat kita melakukan berbagai upaya melakukan banyak hal baik dalam sisi kualitas maupun kuantitas. Namun demikian besarnya hasrat itu sendiri adalah sebuah persoalan yang menyertai, yang secara halus membayangi doa yang semestinya tulus menjadi doa yang ambisius. Tanpa disadari, seringkali kita memaksa Allah SWT dalam sejumlah permohonan yang kita ajukan agar terpenuhi seperti yang kita inginkan. Tanpa disadari, kita telah berhitung seberapa banyak kita telah mengingat (baca : dzikir) Nya dengan harapan, kita mendapatkan imbalan terpenuhinya sejumlah kebutuhan yang kita ajukan.

Tidak ada salahnya memang saat kita mengajukan serentetan pengaduan, keluhan2 atas derita yang kita alami sebagai bagian dari nilai penghambaan dan ketidakberdayaan di hadapanNya. Karena seorang hamba tidak diperkenankan berada dalam ranah kesombongan dengan tidak meminta dan memohon kepadaNya. Karena Dia adalah muara dan hilir dari segenap persoalan dan penyelesaian,   Dia adalah sumber mata air dari setiap rasa haus dan cahaya bagi setiap kegelapan.

Yang mugkin perlu dan harus senantiasa kita sadari adalah, apakah kita telah benar-benar menjadi hamba dalam berdoa, benarkah kita telah berlaku santun dan rendah hati memohon kepadaNya, ataukah justeru kita menjadi hamba yang sangat ambisius dalam bermunajat sehingga ambisi itu justeru mengaburkan makna doa itu sendiri.

Doa bukan sekedar kidung pelipur lara

Doa adalah manifestasi penghambaan, ketidakberdayaan, totalitas dan penyerahan diri

Doa adalah penghadapan secara penuh kehadiratNya….tanpa prasangka, agar Allah menyentuh kita dalam kasih sayangNya.

 

Iklan

HANYA ORANG MISKIN YANG TAHU BENAR APA ARTINYA “LAPAR”

Kalimat itu muncul begitu saja dari seorang miskin papa, …. datar, tanpa ekspresi keinginan untuk mengukuhkan kebenaran atas pernyataannya. Begitulah ucapan itu seolah mengalir tanpa sedikitpun analisis atau referensi2 keagamaan menyertainya.

Lapar secara fisiologis bukanlah perkara yang aneh karena sudah menjadi hukum alam yang sangat biasa terjadi pada setiap makhluk bernyawa. Lapar is lapar, dalam pembahasan ilmu alam, ia hanyalah sebuah refleksi fisiologis yang menunjukkan kurangnya asupan makanan tertentu ke dalam tubuh. Itu bisa terjadi pada setiap makhluk bernyawa di bumi ini. Fakta itu riil tak perlu argumentasi apapun.

Tetapi kata-kata itu akan berbeda jika diucapkan oleh seorang yang lapar karena miskin, dan tidak ada kesanggupan untuk memberi jaminan pada dirinya sendiri bahwa nanti atau esok hari ia bisa menjawab panggilan alam itu dengan melihat fakta tentang ketidakpastian hidupnya ?

Bisa saja kita berusaha menggugurkan pernyataan tersebut dengan argumentasi, bahwa kita diajarkan untuk berpuasa agar bisa berempati, menahan haus dan lapar, menahan setiap gejolak ambisius nafsu dalam wujud apapun, sehingga menjadi pembenaran untuk menolak pernyataan bahwa hanya orang miskin yang sanggup mengerti apa artinya lapar.”

Bagi seorang yang memiliki kecukupan secara materiil, menahan lapar dengan cara berpuasa bukanlah perkara sulit. Secara psikologis, ia mengerti bahwa ia akan berbuka , menikmati indahnya kebersamaan didalamnya tanpa beban apapun dibenaknya. Tetapi tidak bagi seorang yang tidak memiliki kecukupan materiil, ia bahkan tidak punya kesanggupan menjamin dirinya sendiri bisa memenuhinya kembali atau tidak di keesokan harinya. Terdapat keresahan yang menggelayut dipundaknya, sebuah pertanyaan yang bisa dipastikan itu tidak ada bagi orang-orang yang memiliki kecukupan secara materi.

Laparnya orang miskin, adalah kompleksitas persoalan. Maka benarlah kiranya, ketika Imam Hasan bin Ali ditanya tentang apa arti kedermawanan beliau menjawab , “Bahwa kedermawanan adalah memberi sesuatu bahkan sebelum orang meminta ataupun mengucapkan tentang apa yang dibutuhkannya.”

# Tidak perlu bersusah payah untuk menjadi sosialis, agar bisa berbagi. Perlakukan saja orang lain dengan baik seperti kita ingin mendapatkan perlakuan yang baik pula dari siapapun

TANPA JUDUL

Pencerapan indera terhadap suatu realitas membangun sebuah simpul-simpul pengertian yang membentuk sebuah persepsi

Saya berpikir dan merasa (subjektif : tentunya), bahwa ada sebuah masa dimana perjalanan manusia akan sampai pada suatu titik yang melampaui seluruh persepsi dan rasa yang berdiri di atas dualitas semisal suka, tidak suka, bahagia tidak bahagia, puas tidak puas dan sebagainya. Namun, bukan berarti ia akan kehilangan sisi-sisi kemanusiaan itu,

Ada sebuah masa pada titik  t  tertentu perjalanan pemikiran menemukan muara melampaui semua definisi dalam konteks dualitas itu.

Ia “selesai” dari ruang perseteruan batin dan diskursus dalam alam pikirnya. Dan yang hidup didalamnya hanyalah nilai-nilai yang menjadi keyakinan dirinya.

Wallahu’alam

TENTANG KESOMBONGAN

Bahwa kesombongan itu seperti noktah hitam ditengah malam yang gelap gulita. Begitu samarnya ia bahkan ia mampu menjelma menjadi segala macam bentuk sesuai gradasi dan proses metamorfosa hati dan pikiran manusia.
 
Kesombongan membayang disetiap langkah, saat sebagian orang berusaha memperbaiki citra dirinya,
Saat sibuk memproteksi diri dari segala macam kritikan,
Saat berpikir dan menerima bisikan-bisikan hingga ia tak mampu mengidentifikasi siapa dirinya,
Saat tengah menyibukkan diri dengan kata-kata langit,
Saat merasa sibuk untuk berbuat dan mengatasnamakan perjuangan kelas,
Saat menjauhi hiruk pikuk dengan merenungi segala realitas hingga ia lenyap dalam kesunyian yang diciptakannya sendiri,
Saat menuangkan pikiran untuk membuat wacana-wacana dan menggiring opini sesuai bisikan yang kemudian ia ciptakan,
Saat bercanda, serius atau antara keduanya,
Saat kaya maupun miskin,
Saat sendiri ataupun bersama,
Bahkan saat memanjatkan doa dan mengatasnamakan diri sebagai peminta-minta dihadapan Tuhan.
 
Kesombongan itu lembut, seperti lembutnya realitas yang paling lembut didunia ini. Kesombongan itu kasar, sekasar dan semenggelegar teriakan petir di langit. Kesombongan itu berirama, seperti nyayian, tembang atau pun kidung yang mengalun disetiap lembah kehidupan.
 
Kesombongan itu bergerak, segesit gerakan hati dan pikiran, ia akan menyelimuti setiap entitas tanpa ada kata permisi dan tanpa membuat orang merasakan kehadirannya

.

SIAPA SAYA HARI INI ?

Dunia hanya selebar beberapa inchi di depan cermin, begitulah kata sahabat yang saya kasihi.  Akhirnya manusia hanya seperti gundukan B612_20170309_173550 bperistiwa, peristiwa yang terkadang bersinambung terkadang  nampak hanya berdiri mematung sendirian.  Manusia yang hanya bertegur sapa lewat cermin, tertawa sendirian dengan imaginasi melayang seolah sedang terjadi peristiwa yang membuat hati gembira, sedih atau bahkan merana dan frustasi. Padahal ia hanyalah sendirian dibalik  papan 3 x 4 meter yang menaunginya.  Seluruh peristiwa hanya terjadi lewat onggokan benda berukuran beberapa inchi saja. Semua bermuara pada kosong…..

Lalu siapakah kita dibalik semua itu ? Manusia, seonggok daging yang terpenjara dalam alam virtual ?

Oh tidak. Manusia tidak hanya hidup cukup dengan persepsi dan kata-kata bijak,  begitu kata karib saya yang saya hormati.  Manusia tidak cukup hanya terbelenggu  dan fanatik pada pilihan ‘isme-isme’ yang getol ditawarkan oleh dunia. Isme-isme itu hanyalah alam persepsi , tak lebih dari itu.  Manusia tak cukup hanya hidup dialam persepsi. Ujung akhirnya, segala bentuk isme adalah pilihan baik disadari atau pun tidak. Dan pilihan terbaik saat manusia mampu  menempatkannya pada situasi yang tepat, tarik ulur konteksnya…dan tentu dengan pilihan normative yang mendasarinya untuk tidak keluar dari prinsip-prinsip dasar berperikemanusiaan dan berkeTuhanan.

Ini mengingatkan pada ungkapan Napoleon,”Akalku seperti kota-kotak penjual parfum yang dapat kubuka tutup kapanpun dan   kotak mana yang sesuai keinginan dan keperluanku.”  Begitulah, hidup tidaklah stagnan, ia bergerak dan terus bergerak mengikuti sunatullah.  Brown pernah mengungkapkannya dalam prinsip bahwa partikel sejatinya terus menerus  bergerak tanpa henti. Atau juga prinsip kekekalan energi yang mengatakan  energi tidaklah bisa diciptakan atau dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk dari bentuk satu ke bentuk lainnya. “Bermetamorfosa”  kalau orang biologi bilang. Bagi yang kental dengan pemikiran filsafat timur mungkin akan merujuk pada argumentasi Mulla Sadra dalam gerak substansialnya. Tapi bukan itu soal hidup ini,….sekali lagi hidup bukan sekedar persepsi, bukan sekedar pengetahuan atau konsepsi yang mengendap-endap di pikiran.

Manusia dengan segala misterinya, ia berada dalam dimensi yang terkadang tampak bertolak belakang dan dalam dualitas yang tarik menarik. Tapi lagi-lagi untuk menjadi tegak, ia harus mampu memilih dan memilah untuk merumuskan siapa dirinya dan kemana ia akan melangkah. Lihatlah ke dalam apakah kita telah memiliki tekad kuat yang berimbang dengan kelenturan, menyatukan gairah dengan  kesabaran, kesederhanaan dalam kekayaan, syukur dalam kekurangan,  sabar dalam kesulitan, berbuat banyak tapi tetap rendah hati, sholat  khusyuk tapi tetap memiliki rasa takut yang kuat akan dosa2 yang mungkin menyelimuti , memiliki keluasan pengetahuan yang tinggi tapi berbicara melalui perbuatannya, harapan-harapan yang sederhana sehingga jauh dari angan-angan, rasa ber_kekurangan yang sedikit, ruhaniah yang merasa puas dalam kesyukuran.

Siapakah anda dan siapakah saya hari ini, kemarin dan esok ? Mari bergandeng tangan, tanggalkan saja perseteruan yang berpangkal dari terlalu memandang lebih memotret diri sendiri.  Berbuat jauh lebih baik daripada diam. Anda adalah bagian dari saya dalam persaudaraan ini.  Salam damai….

#berdamai_dengan_diri

MANUSIA DALAM REALITAS DAYA TARIK DAN DAYA TOLAK

B612_20170309_175432b
Jombang,  9 Maret 2017

Proporsi paling besar dalam sebuah hubungan, baik  persahabatan,  hubungan kasih sayang, permusuhan, bahkan  kebencian  pada dasarnya adalah bentuk manifestasi dari gaya tarik dan gaya tolak yang  terdapat dalam dimensi manusia.  Pilihan berikutnya adalah seberapa banyak jiwa akan memberikan porsi paling besar dalam menghadapi fluktuasi realitas kehidupannya.

Manusia dengan proporsi penolakan yang dominan, ia akan senantiasa menciptakan bentuk permusuhan, manusia dengan proporsi yang hanya memiliki dominansi daya tarik  saja tanpa penolakan, mereka hanya akan memiliki penggemar,  manusia dengan kepribadian yang tidak mampu membuat tarikan ataupun tolakan, ia tidak akan dapat menggugah simpati, menggerakkan cinta, kasih sayang, permusuhan, atau pun bahkan kebencian dari orang sekitarnya, tetapi manusia  dengan kekuatan karakter menarik dan menolak dalam proporsi yang seimbang ia akan melahirkan pengikut.

Imam Ali Zainal Abidin, dalam doanya meminta,”Jagalah hamba dari menganggap hina orang yang tidak memiliki sesuatu atau menganggap utama orang yang memiliki kekayaan. Karena orang yang mulia adalah orang yang dimuliakan ketaatannya kepadaMu dan orang yang agung adalah  orang yang diagungkan penghambaannya kepadaMu.”

Ketaatan dan penghambaan pada Allah menjadi dua kata kunci dalam membangun karakter kemuliaan akan kedudukan kemanusiaan. Ia akan melahirkan kekuatan tarikan dan tolakan yang darinya akan muncul para pengikut, bukan penggemar, bukan fans yang hanya akan sekedar mengelukan.  Ketaatan dan penghambaan  menjadi sumber inspirasi kecerdasan manusia untuk melejitkan akal murninya sampai pada titik menggerakkan setiap manusia. Ketaatan dan penghambaan bukanlah realitas purba yang hanya sekedar “mengikut” tanpa kesadaran tentang pengetahuan akan diri. Ia hanya dilakukan oleh orang-orang yang telah selesai dengan dirinya, orang-orang yang mampu mengimplementasikan  dimensi ruhaniah  dalam gerakan tubuh visualnya, saat dimana Tuhan “menjelma” dalam setiap perilaku kemanusiaan”. Wallahu’alam

RAHASIA PEREMPUAN

IMG_20170331_194351
Jombang, 26 Februari 2017
Perempuan adalah rahasia. Ia adalah gambaran dari bumi atas langit yang menjulang, langit yang menumpahruahkan segala beban ketinggiannya dan menimpakannya pada bumi yang dalam realitas alam sebagai entitas yang diinjak, dan penerima segala luapan derita langit atas beban yang diembannya. Inilah kekuatan bumi. Kesanggupannya menjadi rendah agar langit tetap menjulang, derita atas penimpaan beban langit demi menjaga semesta dari ketimpangan dan dis_harmonisasi kosmos (ketersusunan) yang telah Allah atur sedemikian rupa. Sekali lagi inilah rahasia perempuan.

Rumi dalam ungkapan indahnya mengatakan “ Dalam pandangan akal, langit adalah pria dan bumi adalah wanita. Apapun yang telah dijatuhkan oleh langit, maka bumi akan memeliharanya.” Dalam ungkapan mistis filosofisnya, seorang Ibnu Arabi mengatakan,”Allah menciptakan pria dan wanita dalam satu lokus yang disebut manusia, sehingga dalam perjalanan ruhaniahnya, kerinduan pria atas wanita adalah tarikan ruhaniah dalam penyempurnaan atas dirinya.”

Inilah rahasia perempuan. Ia berada dalam mihrab ruhaniah, terejawantahkan dalam jilbab anggun yang menyelimutinya hingga ia akan tetap menjadi sebuah misteri di semesta ini. Sebuah rahasia yang tidak akan pernah habis untuk dikaji, layaknya keagungan perempuan-perempuan mulia Sayyidah Khadijah al kubra, Sayyidah Fathimah binti Muhammad, Sayyidah Maryam yang dihembuskan padanya ruhul kudus dan Sayyidah Asiyah isteri Fir’aun dengan rahasia kesabaran tiada tara.

Inilah rahasia perempuan. Ia adalah sebuah perpaduan alam yang memiliki gaya tarik dan gaya tolak sekaligus dalam dirinya. Ia memiliki kaidah yang mampu mengharmonisasikan nalar logis dan afektif, rasional dan intuisi, menjadi eleksir cinta yang akan menggugat setiap ketimpangan dan disharmoni di alam semesta ini.

Lebih jauh di “ruang rahasia perempuan”, Fathimah binti Muhammad pernah ditanya oleh Rasulullah tentang apa hal terbaik bagi perempuan, lalu beliau menjawab,”Yaitu ketika ia tidak melihat lelaki lain dan tidak dilihat oleh lelaki lain.” Itulah mihrab, hijab, singgasana, dan kerajaan perempuan.
Boleh jadi seorang perempuan adalah seorang ratu atau pemimpin di sebuah masyarakat, tapi dalam kaidah ruhaniah, ia tetap berada dalam mihrabnya, boleh jadi ia adalah seorang pakar dalam berbagai bidang ilmu dan bergaul dengan berbagai khalayak, tetapi ia tetap ada dalam mihrab keterjagaannya. Perempuan adalah rahasia, meski ia tampak tapi ia adalah realitas yang tersembunyi. Kenalilah perempuan dari jiwa perempuan itu sendiri….

#story_sabdasunyi,   Jombang, 26 Februari 2017