Arsip Kategori: Pendidikan

BELAJAR BERBASIS TOPOGARFI OTAK

Penulis : Muhammad Alwi

“Pembelajaran Berbasis Topografi Otak” Dengan Basis Multiple Intelligence dan Emotional Question & Integrasinya Terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)”. Mengapa kita menangis melihat telenovela, padahal kita tahu itu sebuah acara bohong-bohongan? Mengapa kalau guru killer anak makin tidak bisa? Mengapa kita perlu memperhatikan otak kanan kita? Mengapa banyak anak yang takut bicara didepan kelas? Mengapa emosi sangat penting dalam belajar? Bagaimana mekanisme mempengaruhi daya ingat, penyerapan ilmu dst? Bahkan orang gilapun kemampuannya tentang berenang tidak hilang, sementara ilmu kita yang normal banyak yang hilang? Mengapa suasana kelas harus nyaman? Mengapa pengalaman kita saat kecil ada yang tetap diingat dan ada yang tidak? Bagaimana memanfaatkan kapasitas otak yang katanya mampu menampung 400 trilyun kitab @ 500 halaman?

Bagaimana orang seperti Kim Peek bisa hafal 12000 buku, tetapi memakai pakaian dan bersepatu masih harus dibantu orang tuanya? Dalam buku ini kita akan mendapatkan penjelasannya. Buku ini, “Pembelajaran Berbasis Topografi Otak dengan Basis Multiple Intelligence dan Emotional Question dan Integrasinya terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)”. Berintikan bagaimana memanfaatkan temuan-temuan, riset-riset dari neurosain, Topografi otak seperti Otak Tribune (Penggagasnya Paul McLean); yang meliputi; Otak Reptile (Otak Bawah), System Limbic (Otak Tengah) dan Neo-Kortek (Otak Atas) terhadap pembelajaran disekolah dan kelas dengan berusaha, dengan bahasa yang sangat-sangat difahami guru disekolah. Juga bagaimana topografi system otak Kanan-Kiri (Roger Sperry), dimanfaatkan dalam pembelajaran disekolah dan mengaktifkan bagian-bagian itu. Bagaimana topografi otak mengenai otak emosional (Sistem Limbik dan Prefrontal, dari temuan-temuan ahli neurosain semacam Antonio Damasio dan Joseph LeDeoux), bagaimana memanfaatkan Topografi Otak, ‘Otak Sadar’ dan ‘Otak Tak Sadar’ (Konsep Psikologi Frued, Psikoanalisa yang banyak dipakai di Hipnosis dan penyembuhan, Terapi), dalam upayanya meningkatkan kepercayaan diri, meningkatkan kemampuan bicara didepan kelas, kemampuannya menghilangkan stress dan takut, fobia dan lain sebagainya (Disini sedikit diberikan contoh- contoh terapinya, khususnya terapi-kognitif). Penggunaan-penggunaan temuan ini, diupayakan sampai tingkat dalam pembelajaran kelas. Dimana untuk Integrasinya masuk diruang kelas (mulai dari Silabus, lesson Plan (RPP), Strategi mengajar, pembuatan soal, evaluasi sampai Supervisi Kepala Sekolah) digunakan dengan Percampuran antara KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang sudah secara umum dikuasai oleh guru-guru dengan metode Multiple Intelligence. Dengan ini maka tingkat penggunaannya akan mudah (karena guru-guru cukup familier) dan acceptabilitasnya tinggi. Diharapkan dengan itu semua maka, Belajar untuk Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati…akan dapat diraih. (Insya Allah akan Terbit Akhir 2011 atau awal 2012).

Penulis : Muhammad Alwi, Human Learning Specialist. Pernah Kuliah di Kedokteran Umum Univ Airlangga Surabaya, Alumini Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang (Human Resource Manajemen), Alumni Univ Negeri Malang, Jurusan Pendidikan dan sekarang sebagai Trainer Pemberdayaan Guru dan Karyawan, mulai dari Belajar Cara Belajar, Pendidikan dan Pembelajaran Berbasis Topogarfi Otak, Effective Communication for Succes Bussines, Power Personality dan Performance Barrier. Penulis sekarang sedang studi di Jurusan Psikologi. Buku yang sudah diterbitkan; “Belajar Menjadi bahagia dan Sukses Sejati, Penerapan Multiple Intelligence dalam Keluarga, Lembaga Pendidikan dan Bisnis” (Elexmedia Kompas Gramedia-2011, 304 halaman).

Iklan

PELAJARAN YANG DIKENDALIKAN OLEH PELAJAR

Penulis : Muhammad Alwi

The Lesson is Controlled by The Student

Paradigma Baru Sekolah Tidak Konvensional

Selama ini sekolah menurut saya masih konvensional. Mulai dari Penerimaan murid baru (PSB), penempatan kelas dan proses pembelajaran di kelas. Dimana proses pembelajaran dikelas itu dilakukan dengan; Guru menggunakan Silabus, lesson plani dst..dst. Buku paket diajarkan bagian demi bagian, bab demi bab, walaupun sudah diupayakan dengan seaktraktif mungkin ataupun menggunakan konsep-konsep terbaru berupa method pembelajaran Quantum, Accelerated Learning dan konsep-konsep canngih lainnya. Tetapi itu semua masih tergolong sebagai pembelajaran “Konvensional”. Sebab anak masih diharapkan mengikuti Target, Kurikulum dst..dst. Mengapa tidak dicobakan “Pembelajarn berbasis Pelajaran yang di Kendalikan oleh Pelajar”. Ini terinspirasi oleh konon katanya, Muhammad Abduh Mesir saat beliau ingin kuliah di Al Azhar. Dia mengatakan; “SAYA MAU KULIAH DISINI DENGAN SYARAT, BUKU YANG DIBACA, PELAJARAN YANG DIAJARKAN, SAYA YANG MENENTUKAN”. Jelas saat itu dia ditolak. Ini contoh, sebuah paradigm yang menarik dimana Pelajaran dikendalikan oleh pelajar. Walau Artinya tidak se-ekstrem Muhammad Abduh itu, tetapi dikompromikan antara pelajaran, kurikulum yang ditentukan oleh sekolah (Diknas), tetapi method pencapaian pelajaran itu bagaimana pelajaran itu dikuasai, semua diserahkan kepada pelajar, tergantung mereka sendiri. Sesuai dengan teori motivasi; “Jika mereka sendiri yang memilih, jika mereka dilibatkan….maka komitmen, tanggung jawab akan cukup besar.” Bagaimana mekanisme itu dilakukan Sekolah dan dikelas?

Ada 5 elemen berikut ini yang mesti dilakukan oleh disekolah yaitu;

a) Hasil apa yang diinginkan mesti disepakati. Ini perlu dikompromikan dengan wali-murid selaku stakeholder. Jawaban pastinya ingin Sukses Kognitif,Afektif (Karakter) serta Psikomotor (hal-hal yang berbau gerak). Maka sekolah harus mengidentifikasi apa yang harus dikerjakan dan Kapan itu mesti diraih. Disini Hasil…itu yang disepakati….metode bagaimana mencapai itu, terserah Pelajar. Lalu

b) dibuatlah Patokan-patokan untuk menetapkan parameter (prinsip, kebijakan dst) yang didalam berisi apa-apa hasil yang mesti dan harus dicapai, baik inti maupun cabang. Misalnya Kompetensi harus seperti ini…tolok ukurnya seperti ini…berhasil atau tuntas jika sudah menguasai seperti ini….dengan Evaluasi seperti ini dst..dst.

c) Sumber daya, mengidentifikasi dukungan-dukungan yang mesti diberikan. seperti; manusia (guru), Keuangan, Teknis atau organisasi yang tersedia untuk membantu mencapai hasil. ini bisa berupa guru privat, guru siap ditanya oleh anak-anak dst..dst.

d) Tanggung jawab, disini ditetapkan standart prestasi dan waktu evaluasinya. e) Konsekuensi, menetapkan (baik-buruk) apa yang akan terjadi sebagai hasil evaluasi. Sekadar contoh UJI COBA DISEKOLAH X (Eropa dan AS) (Saya sesuaikan dengan Indonesia). Pelajaran IPS (SMP), butuh 6 jam setiap minggu dikali 4 minggu, dikalikan 5 bulan. Maka hasilnya adalah 120 jam Pelajaran/Semester.

A) Apa yang harus dikuasai anak. Dalam bahasa kurikulum, kompetensi apa yang mesti dicapai selama 1 semester itu? Ini perlu dirincikan dan diberikan serta dijelaskan semuanya kepada anak-anak. Kamu harus menguasai dan mampu ini-itu. Lalu

B) dibuatkan patokan-patokan, misalnya bahwa kalian harus datang kepada guru bersangkutan untuk meminta evaluasi, menyerahkan resume, proyek dst..dst. misal; 5 kali evaluasi, 2 resume, 3 proyek dst..dst. setelah mereka sadar itu,

C) Diberikan sumber daya-nya, misal. Ini buku paket-nya, ini modulnya, ini buku penunjangnya, ini guru-guru yang akan membimbing kalian (misal: hanya 3 kali tatap muka selama 1 semester) dst..dst. intinya mereka punya sumber daya untuk mampu menyelesaikan apa yang diharapkan kepada mereka.

D) Tanggung jawab dan Konsekuensi. Bila anda dalam sekian kali evaluasi dst…rata-rata nilai dibawah target, tidak menyelesaikan kewajiban sampai batas waktu yang ditentukan…..maka konsekuensi-nya adalah masuk kelas regular misalnya atau…atau. Tetapi bila selesai sebelum waktunya, maka berhak ikut Out-Bond gratis pengembangan diri, seminar, pelatihan X, wisata di Bali dst..dst (sisa 120 jam itu…atau kebijakan sekolah itu).

Disini anak diberikan proyek yang mesti diselesaikan sendiri, diberikan target-tergetnya, diberikan daya dukungnya, tanggung-jawab dan konsekuensi hasilnya. Dengan method semacam ini, maka anak akan terbiasa memanajemeni diri, memanag waktu, menggunakan sumber daya dengan efektif dan efisien dst. Juga konsekuensi bila gagal dan berhasil.

Setelah diujicobakan (beberapa sekolah, kebanyakani masih bukan di sekolah, tetapi di tempat pelatihan guru dan karyawan), mereka menyelesaikan jauh lebih cepat dari target yang dipasang. Ini sebenarnya sesuai dengan konsep dasarnya, dimana bila manusia itu diberikan keleluasaan mengatur dirinya, disediakan target terpasang yang menantang serta konsekuensi dari hasil, mereka akan terpacu untuk meraih itu semua. Ini sebenarnya salah satu upaya manajemen kepemimpinan bergaya Tranformasional yaitu gaya kepemimpinan yang mengubah individu-individu yang terlibat sekaligus mengubah hubungan-hubungannya.

Muhammad Alwi : Penulis adalah Dosen “Organizational Behavior Management”, Pendidik Serta Mantan Kepala Sekolah. Sekarang adalah Pendamping Pelatihan Guru/Karyawan/ Siswa. Penulis Buku..”Belajar Untuk Bahagia dan Sukses Sejati, Penerapan Multiple Intelligence dalam Keluarga, Lembaga Pendidikan dan Bisnis” (Elexmedia, 2011).

Anak-Anak Yang Digegas, sebuah exploitasi dalam sistem pendidikan…???

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak. Di antaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnva bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.

Beberapa kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930 pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian ? James Thurber seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis sii anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada bcberapa waktu silam.Sesuatu yg amat ironis….

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 6 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 lahun la menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einsten yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk kelakukan “Early Childhood Training”. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang dimana-dimana, di Indonesia…-.

SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK

Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk dari pada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk.

Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “Operator kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi “pengabar isi buku pelajaran ” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan “mesin-mesin dalam menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi ? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran ? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-pcrilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah — dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk….Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya !

Pembelajaran dilakukan dengan cara yang sama. Membangun 90% kognitif dengan 10% afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking wilayah….

Mengkompetensi Anak— merupakan `KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?”

“Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasaYang bertanggungjawab.-…” (Nature versus Nurture). bagaimana ? Karena ada dua pengertian kompetensi = kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendir Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita-¬sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pebelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut :

“Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select–doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors”.

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini ” setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1976. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur “Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill) “dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut :

`The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were… simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey”.

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah. semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-¬kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif. Ulah karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja !.

Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan -“curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita.

Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan ! “Empty Sacks will never stand upright”—George Eliot.

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”. Dimana mereka mendidik anak menjadi “good and smart “-terang hati dan pikiran.

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya ber jam

jam untuk belajar anatomi tubuh manusia.

Thomas Edison mengatakan bahwa “genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration”. Semangat belajar —“encourage” – Tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati—kesukaan dan kecintaan— belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak.

Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan “moral litermy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr). Inilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik…

Sbr : DUF (Pengembangan Pendidikan Karakter)