Arsip Tag: Hikmah

TENTANG KETULUSAN (IKHLAS)

Ketulusan terkandung dalam semua perbuatan yang terpuji. Ia dimulai dengan penerimaan dan diakhiri dengan kesukaan Allah. Oleh karena itu, orang yang tindakan-tindakannya diterima oleh Allah dan kepadanya Allah merasa senang adalah orang yang tulus (mukhlish), meskipun perbuatan yang dilakukannya hanya sedikit. Barang siapa yang tindakan-tindakannya tidak diterima bukanlah orang yang tulus, meskipun perbuatan yang dilakukannya banyak.

Tanda penerimaan adalah timbulnya integritas dan kebenaran, dengan jalan mencurahkan segala sesuatu yang patut diinginkan dengan kesadaran penuh akan setiap gerakan dan kesunyian. Untuk mempertahankan apa yang dimilikinya, diri orang yang tulus itu lebur, dan hidupnya dihabiskan agar ia dapat menempatkan apa yang dimilikinya secara benar, dengan menggabungkan pengetahuan dan perbuatan, pelaku dan apa yang dilakukannya dalam perbuatan itu. Sebab jika ia telah berhasil mencapai itu, berarti telah mencapai segalanya, dan jika ia gagal berarti gagal dalam segalanya, dan hal ini dihasilkan dengan jalan menyucikan makna-makna yang bertentangan (Tanzih) dengan keesaanNya.

Sebagaimana dikatakan oleh imam Ali,”Mereka yang bertindak akan musnah, kecuali mereka yang menyembah Allah, mereka yang menyembah Allah akan musnah kecuali mereka yang mengetahui Allah, mereka yang mengetahui Allah akan musnah, kecuali mereka yang jujur, mereka yang jujur akan musnah, kecuali mereka yang tulus, mereka yang tulus akan musnah, kecuali kecuali orang yang waspada, mereka yang waspada akan musnah, kecuali mereka yang memiliki keyakinan, dan mereka yang memiliki keyakinan adalah yang bersifat luhur.

Tingkat ketulusan paling rendah adalah ketika seorang hamba berusaha sekuat tenaganya, dan kemudian tidak menganggap perbuatannya berharga di mata Allah, sehingga ia tidak mengharap Tuhan akan memberinya pahala untuk perbuatan-perbuatannya dengan sepengetahuannya. Sebab jika Allah memintanya untuk memenuhi seluruh kewajiban penghambaan (‘ubudiyah), maka ia tidak akan mampu melakukannya.

Paling rendah kedudukan dari orang yang tulus di dunia adalah terselamatkan dari segala perbuatannya yang salah, terselamatkan dari api (neraka) dan memasuki Taman (surga) di akhirat.

Apabila seorang hamba mengumpulkan perbuatan-perbuatan baiknya dan mengharapkan pengakuan, Tuhan dapat menahannya untuk mengingat apakah dia telah memenuhi kewajiban-kewajibannya secara sempurna, dan tak seorangpun karenanya dapat berjaga-jaga.
(Mutiara Hikmah dari Imam Ja’far Ash Shodiq)